Senin, 25 Juni 2018

Tentang Mencoba untuk Lebih Baik

Bukan maksudnya selama ini saya jadi orang jahat, hanya saja menjadi pribadi yang lebih baik. Saya sudah merenungkan ini sejak lama, tetapi benar-benar yakin harus berubah karena percakapan dengan teman di Line.


Saya tahu, manusia itu tidak ada yang sempurna. Hanya saja, bukan berarti itu alasan untuk tidak berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri. Tujuan saya menuliskan ini sebenarnya lebih kepada pengingat, bahwa berubah itu bukan cuma niat belaka, tapi juga dilaksanakan.

Ada satu hal yang sejak dahulu saya sadar sebagai kekurangan diri ini, tetapi tidak mau mengakui dan tidak tahu harus bagaimana mengatasinya. Saya jika bersama orang yang dianggap cukup 'dekat' maka akan selalu berusaha mengkoneksikan semua topik menjadi ke arah saya. Hal ini kalau tidak salah saya ingat sudah ada sejak jaman SD dan masih terbawa sampai hari ini.

Mungkin karena saya tipe yang mencari teman yang cocok itu susahnya setengah mati dan begitu menemukannya, langsung merasa bisa melepaskan topeng. Hanya saja, sikap ini malah membuat saya kehilangan teman. Dulu, saya pikir itu karena teman-teman saya palsu. Mereka hanya mau berteman dengan saya karena ada maunya saja.

Namun, Line di hari Rabu tuh mengubah pemikiran saya tentang ini. 

Sebenarnya teman saya ini sudah mengatakan hal yang sama dan dulu saya memang mengamininya. Hanya saja waktu itu mungkin karena masih diperhalus bahasanya dan saya masih mengulang hal yang sama. Sampai hubungan kami seperti tidak enak begitu dan kali ini saya tidak mau ikhlas kalau akhirnya kehilangan teman lagi.

Karena pertemanan memang punya batas waktu, tetapi bukan berarti tidak diusahakan. Saya tentu tidak mau hubungan pertemanan rusak hanya karena sikap yang sebenarnya bisa dikontrol kalau mau mengusahakannya.


Mungkin sampai sini pada mikir, sebenarnya kekurangan apa yang sampai membuat saya menuliskan ini?

Jujur, saya merasa cukup egosentris. Semua hal harus berhubungan dengan saya dan kadang, hal yang memang terjadi karena atas dasar "shit happen in life" justru menyalahkan orang lain. Menganggap dia sengaja melakukannya karena tidak menyukai saya.

Intinya, dari egosentris ini jadi berimbas kemana-mana. Saya tahu manusia itu memang pada dasarnya mahluk yang mementingkan ego, tapi saat ego itu mulai terlalu mendominasi maka yang ada hanya merusak apa yang ada.

Mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan itu susah, beneran. Saya awalnya juga merasa kenapa palsu banget ya? Cuma mungkin itu namanya transisi dan sekarang sudah mulai agak terbiasa untuk tidak mengkoneksikan segala sesuatu kepada saya. Karena dunia bukan hanya tentang saya dan tidak semua pendapat saya selalu benar serta penting.
Karena pada akhirnya, semua kembali kepada kompromi. Memperbaiki diri sendiri itu termasuk kompromi dan cara untuk menyayangi diri sendiri.

Tidak ada komentar

Posting Komentar