Tentang Blogger Ini dan Itu

Sabtu, 05 Mei 2018

Blognya sih boleh dibuat tahun 2013, dipakai beneran dan diseriusin baru tahun 2018. Sok-sokan buat postingan kayak begini, lol. 😂 



Jadi sebenarnya postingan ini dibuat lantaran saya baru blog walking. Biasanya saya hanya mampir di Blogger favorit (yang cuma hitungan jari) dan merenung lama saat scroll book blogger milik saya. Biasanya hanya seperti itu, sampai saya sadar blog ini tidak ada angin tidak ada hujan, ada yang komentar.

Bingung, karena kenapa deh sampai ada yang komentar? 

Lalu saya klik list yang dia ikuti dan begitu membuka satu-satu, langsung cepat-cepat close tab. Sungguh saya sangat judgment soal ini dan itu, makanya langsung tutup. Terus mikir dan berakhir buat postingan beginian. 

Sungguh, saya tidak boleh dibiarkan random tidak berguna atau bakalan kebanyakan mikir. Beberapa hal yang saya sadari dari para blogger ini adalah:


🐢 Pada Membeli Domain
Apalah hamba mahluk misqueen yang beli paper dollar masih diakali dengan buka situs gratisan. 😪

*sungguh sebuah kebohongan paragraf di atas soal misqueen karena mampu beli template responsif seharga domain*

Hanya saja, sejak kapan sih beli domain seperti diwajibkan? Kalau memang blognya jelas memberikan penghasilan, silahkan beli domain. Kalau kayak saya ini yang masih belum mikir optimasi blog dan nulisnya masih tidak konsisten ya mendingan pakai bawaan blogspot sajalah. 

Soalnya masih mikirin kalau tidak perpanjangan domainnya, blognya bakalan hilang. Oh saya tentu tidak rela postingan dibuat tahunan hilang begitu saja karena lupa bayar atau tidak punya uang memperpanjang domain

Katanya beli domain biar terlihat profesional gitu. Ah masa? Padahal blogger yang saya ikuti beberapa masih pakai domain blogspot dan pembacanya banyak aja. Dapat kerjaan juga dari klien (saya bisa ngomong karena book blogger saya pada jamannya sebulan bisa dapat job 2 sampai 3 buku dan itu masih pakai domain blogspot). Jadi rasanya tidak valid aja alasannya. 

Masalah yang bikin saya gemes ingin nyinyir adalah kalau sudah beli domain tapi template blognya ... auklah. Bakalan dibahas di poin selanjutnya ya. 

🐢 Template Blog yang Tidak Aesthetik
Judge me, saya siap menerima semua nyinyiran. Hanya saja, saya lebih baik buka blog yang memang pakai template blogger yang basic sekalian atau langsung pakai tema yang responsif. 

Karena saya anaknya suka keindahan, tapi kepentok tidak bisa membuat template sendiri, ya belilah. Murah kok yang sudah premade, kalau pintar milih dan pintar cari diskon bisa dapat template seperti blog ini cuma 92 ribuan 😏

Cuma karena saya anaknya kurang mudah puas, sekarang masih mencari-cari template blog yang bisa di custom. Cuma tidak tahu  apakah dompet saya sanggup membayarnya? *kekep ATM*

Saya paling asdfghjkl saking keselnya kalau lihat blog udah domain, tapi template blognya tidak indah dipandang. Maksudnya tidak indah itu, pemilihan warnanya dan presentasi blognya. Karena menurut saya nih, pemilihan template itu berpengaruh dengan niche serta branding apa yang ingin diperlihatkan. 

Aduh Mbak Shen, baru mulai blogging kok sudah cari perkara dengan nyinyirin blog orang? 😪

Ini hanya opini pribadi ya, lagian kalau yang punya senang yaudah sih. Cuma intinya ya saya tidak bakalan betah di blog yang template-nya tidak responsif, tidak aesthetik dan gaya penulisannya terlalu banyak pemborosan kata. 

Karena saya paling malas baca blog orang kebanyakan basa-basi. Di kehidupan nyata saja saya paling tidaj bisa basa-basi, apalagi kalau baca blog. Bye ajalah. 

🐢 Pop Up Iklan 
Iya tahu kalau ada iklan tuh bisa menambah pemasukan blog. Hanya saja untuk saya yang tidak suka iklan, ini jelas menganggu. Apalagi kalau sampai maksa harus di tutup karena menganggu saat dibaca. Kalau tidak kepepet baca karena butuh info ya malas bertahan. 

Tolong ya, saya sampai rela buang jatah pulsa buat internetan demi bayar aplikasi kesukaan agar tidak ada iklan, jadi kenapa saya harus pasrah baca blog orang ada iklan gengges? Kecuali tulisan orangnya sangat mewakili saya yang jiwa young, wild and free ini sih ya biasanya mana mau bertahan. 

Tapi blogger favorit saya tidak ada iklan yang gengges, gimana? 😂

Kalau suatu saat blog ini diseriusin, saya bakalan pastiin untuk tidak ada iklan yang menganggu. Biar saja tidak dapat uang, saya nulis buat dibaca, bukan buat cari uang dengan membuat orang lain kesal. Logikanya, saya aja benci iklan gengges yang muncul merusak aesthetik template, kenapa saya harus rela memasangnya di blog? 

🐢 Foto Butek/Noise & Pemilihan Font
Berani sekali saya menyinggung hal ini padahal sendirinya kalau ambil gambar juga tidak bagus. Hanya saja, saya paling meh kalau foto yang dijadikan representatif postingan tersebut butek atau noise. Kalau tidak jago foto, yasudahlah cari di website foto gratisan. Cari aja yang CC0 alias fotonya tidak perlu linkback untuk dipakai dan boleh dipakai secara komersil. 

Hidup jangan dibuat ribet. 😪

Kombo gengges kalau sudah fotonya auklah, font yang dipakai antara 2. Alay sekali atau plain banget. Padahal di Internet banyak font gratisan dan edit foto biar tidak noise atau butek kan bisa pake Snapseed atau VSCO. Kalau mau kasih tulisan, di HP bisa pasang Phonto. Aplikasi kesayangan banget dan memburu font gratisan tidak pernah semenyenangkan ini sejak punya Phonto, lol. 

Saya jarang pakai foto sendiri, karena masih belajar pakai VSCO. Mau fotonya ala-ala Instagram yang lightingnya kece dong. 

Pakai Canva sih oke, tapi kadang pun suka aneh juga karena salah memilih warna. Giliran yang cantik banget, berbayar. Yah namanya juga hidup, tidak semuanya bisa gratis. 

🐢 Tidak Punya Niche dan Personal Branding
Oh jangan dipikir saya sudah punya personal branding ya untuk blog ini. Soalnya orang tahunya Shen Meileng itu book blogger, bukan yang punya blog ini.

Hanya saja kesamaan saya dan blog sebelah itu ada 2.
  1. Penyuka warna hijau pastel (spesifik bangetlah RGB hijau pastelnya). 
  2. Suka hal-hal gemas dan gambar custom (saya sampai mengubek-ubek FB untuk pesan pada fanartist favorit menggambar header blog ini). 

Kalau untuk book blogger saya, reviewnya cenderung lugas dan kadang terlalu to the point menyampaikan opini. Kalau di sini, masih dipikirin sebenernya mau dibawa kemana. Sekarang sih jelas, menampung nyek-nyek saya terhadap suatu tema. Entah melihat kelakuan orang lain, entah karena melihat artikel berbahasa Inggris. 

Daripada lupa kan ya udah didiskusikan sampai pusing, lebih baik dituliskan dengan bahasa lebih baik kemari. Saya jujur sudah tahu niche blog ini, tapi saya mau membangun personal branding yang terpisah dari book blogger saya. 

Kalau memang tidak mampu beli domain karena pelit, tidak mampu beli premade template karena gak puas sama bentuknya, fotonya seadanya doang atau bahkan tidak berfoto sekali pun, setidaknya harus tahu niche dan personal branding apa yang ingin dibentuk. Apalagi kalau mau dapat uang di google Adsense kan ya, mana dikasih lolos sama google kalau isi blognya tidak jelas. 

Ini cukup sulit, karena menurut saya menulis yang bakalan melatih itu semua. Baru bisa dikatakan sukses memiliki niche kalau konsisten menuliskab hal tersebut dan sukses membentuk personal branding kalau baca tulisannya hanya dari 1 paragraf sudah tahu siapa yang menuliskannya. 

Isinya curhatan doang? Tenang saja, para blogger favorit saya isinya 80% curhatan soal kehidupannya dan saya melihat niche serta personal branding-nya yang oke. Jadi jangan pakai alasan mau nulis suka-suka tanpa arah kalau ingin diseriusin blognya. 

🐢 Tulisannya Membosankan 
Gimana ya menjelaskannya tanpa bikin orang sakit hati

Ada beberapa blog yang saya baca terlalu sok asik, tidak tampak natural. Juga ada beberapa blog yang tidak bisa mengatur pemilihan katanya sehingga rangkaian kalimat pada paragrafnya bikin bosan. Karena pemilihan katanya yang terus diulangi. 

Apalagi kalau tanda bacanya dikacangin. Rasanya ingin saya kirimkan soft file PUEBI dari Menteri Pendidikan. 😩

Tidak perlu baku plek kayak novel kok, tapi setidaknya tolong pembagian kalimatnya dalam satu paragraf diperhatikan. Dipakai dengan benar tanda baca titik dan koma. Saya baca dari blogger favorit saya yang kebetulan kuliah di jurnalistik, dia bilang satu paragraf itu kalau bisa berisi 3 sampai 4 kalimat sebelum paragraf baru.

Saya menyetujui kata blogger favorit saya itu karena memang ada namanya. Kalau tidak salah, namanya komposisi kalimat. Paling malas kalau blognya sudah oke, tapi ternyata komposisi kalimatnya meh. Satu paragraf panjang banget, bacanya jadi capek sendiri. 

Pada tahu kan bedanya kalimat dan kata? 

***

Menurut saya, silahkan kalau ingin menulis blog untuk menjadi catatan personal. Hanya saja kalau memang ingin banyak dibaca dan untuk berbagi, sebaiknya sejak awal sudah jelas mau dibawa kemana blognya. Setelah jelas blognya ke arah mana, pelan-pelan dibentuk. Entah memperbaiki tampilannya, isi tulisannya, niche dan segala macamnya. Kalau masih baru memulai, saya biasanya maklum. Kalau sudah sampai tahunan dan tidak ada perubahan, bye aja ya. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar