Jumat, 04 Mei 2018

Menerima Kekurangan Tulisan

Sebenarnya saya bisa menerima kekurangan diri karena sadar dengan keadaan, tetapi entah kenapa hal ini tidak berlaku kalau dalam hal tulisan. Padahal saya dianggap perfeksionis oleh orang-orang sekitar.


Sebenarnya postingan ini dibuat karena tertohok oleh salah satu paragraf blogger favorit di salah satu postingannya. Beneran saya sampai merenung lama banget dan memikirkan alasan kenapa saya sejahat itu kepada diri sendiri kalau menilai tulisan sendiri? Kutipannya ada di bawah ini.
"...semuanya rata-rata menyarankan bahwa kritik ke diri sendiri itu harusnya sama dengan kritik ke orang lain. Konstruktif tapi tidak menyakiti. Apalagi sampai melukai harga diri." - Kak Ast
Mencoba merunut kenapa bisa sampai sejahat itu menilai tulisan sendiri dan berakhir kembali mengingat jaman SD. Seingat saya, waktu kelas 5 SD adalah awal mula berkenalan dengan dunia menulis. Karena saya jadi juru ketik teman saya yang punya ide cerita dan yang punya laptop ... tetapi tidak tahu cara menggunakannya. Kalau dipikir lucu ya, masa punya barang keren pada jamannya, tapi tidak bisa menggunakannya? :')

Setelah tugas mengetikkan saya selesai, saya mencoba membuat cerita sendiri dan hasilnya 80% mirip. Hanya ganti nama dan ending karena tidak suka dengan versi teman saya. Kalau dipikir lagi, saya dari kecil bakatnya tukang meniru ya?

Karena teman saya itu sering menulis dan saya anaknya tidak mau kalah, jadilah saya juga belajar menulis. Hanya saja jangan berharap karya anak SD itu bakalan bagus. Cuma refrensi menulis saya waktu itu adalah majalah bobo dan kumcer terbitan bobo yang saya lupa namanya apaan. Masih ada loh buku kumcer ini *dibahas*

Sampai saya pindah ke Balikpapan kelas 3 SMP dan saat class meeting, ada lomba menulis. Saya ingin ikutan, tapi saya tidak diperbolehkan dengan alasan anak baru di kelas dan juga, "memangnya kamu bisa nulis? Udah deh gue aja yang mewakili kelas."

Saya tidak bisa jawab, karena shock. Kalau mana sekarang saya digituin mungkin bakalan balik melawan, tapi saya waktu SMP terlalu lugu dan manut T_T

Iya benar, dia yang melarang saya ikutan lomba menulis itu dapat juara 2, tapi saya masih teringat perkataanya yang jahat itu sampai sekarang. By the way, Balikpapan itu bahasa sehari-harinya untuk perujukan diri sendiri dan orang lain biasanya "aku-kamu" dan dia bilang "gue-lo" karena teman-teman sesama pindahan yang satu gelombang dengan saya anak Bogor dan Jakarta. Padahal saya ingat, hari kedua masuk di SMP tersebut, saya dan teman-teman dilabrak karena bahasa itu.

Oke skip. Masuk SMA dan kenal sama teman-teman baru. Kenalan dengan dunia anime dan menjauhi KPOP sejenak, lalu mengenal website FFn. Kelas 1 SMA udah kenal, kelas 3 SMA baru sukses bikin akun karena bego tidak mengkonfirmasi akun yang dibuat di email yang dimasukkan.

Mulai nulis tanggal 1 Januari 2013 dan tahun 2013 itu tahun paling produktif menulis. Padahal tulisan fanfic yang kalau dibaca ulang kembali ancur banget. Tidak kenal kapital, tidak kenal titik koma, plotnya beberapa plek seperti komik dan berani-beraninya mengikuti event penilaian fanfiksi tahun tersebut. Menang sebagai kategori pendatang baru terproduktif.

Mungkin jurinya kasihan sama saya makanya diadain kategori itu.

Pada masa ini, saya beberapa kali di bash soal tulisan, Saya ingat banget ada yang menyuruh mati karena tidak mengerti kapital dan tanda baca, tapi sayanya tidak ngeh. Sekali ngeh, hanya ketawa dan waktu itu memang sudah ada berkembang tulisannya. Setidaknya sudah kapital bener dan tanda bacanya bener,

Jalan sampai tahun 2015 dan di titik ini sebenarnya saya lumayan terkenal, tapi saya merasa tidak puas. Semua orang memuji, tetapi saya entah kenapa tidak puas saja. Saya berakhir terus mengkritik tulisan dan waktu itu saya memang di bash karena memasangkan tokoh yang tidak biasa di fandom ninja.

Belum sah jadi penulis FFn divisi fandom ninja kalau belum di bash sama pembaca karena masalah pasangan saja.

Begini begitu, saya terus mencoba menulis di berbagai platform dan tahun 2018 ini berakhir kembali ke blog. Saya merasa buntu menulis dan menggunakan alasan TA sebagai penyebabnya.

Lalu saya merasa diketok oleh kenyataan saat melihat rata-rata tulisan draf saya di Evernote adalah 1000 kata. Jadi, alasan saya tentang TA tidak valid dan sadar, kalau saya terlalu keras kepada diri sendiri.

Inti dari postingan ini, saya sedang mencoba kembali menghargai tulisan saya sendiri. Kalau ada perkembangannya, nanti bakalan saya update kemari.

Tidak ada komentar

Posting Komentar