Mendefinisikan Diri Sendiri

Kamis, 03 Mei 2018

Apa definisi diri sendiri? 


Tulisan ini eksis karena teman mengirimkan pertanyaan ini dan saya malah berakhir berpikir keras. Harusnya mudah banget pertanyaan ini dan seharusnya ini kesempatan untuk menyombongkan diri dengan segala kelebihan yang ada. Kenyataannya, saya justru bingung harus menjawab apa dan malah mengembalikan pertanyaan dengan, "maksudnya definisiin seperti apa?"

Karena saya bingung dan merenung sikap diri ini yang cukup kontradiktif. Jadi bukannya langsung menjawab, malah berpikir dulu. Haruskah saya menuliskan yang bagus saja? Atau saya harus jujur saja? 

Akhirnya? Ya jujurlah, karena memang menjadi jujur itu pilihan. Kalau menurut definisi saya itu....


🍈 Menyesuaikan Diri
Jadi saya bersikap berdasarkan suatu keadaan. Kasarnya nih, saya baik saat orang lain baik. Saya jahat kalau orang lain jahat dengan saya. Kata Ibu saya, harusnya saya baik tidak pilih kasih, tetapi saya rasa tidak semua orang harus diberikan effort untuk dimengerti saat dia sendiri tidak mau melakukan hal yang sama. 

Saya benar-benar total kalau berdebat dengan orang yang tidak mau memberikan hak yang harusnya saya dapatkan. Entah sudah berapa banyak orang yang sakit hati karena sikap ini, tapi apa saya peduli? Tidaklah, karena ini namanya tentang menghargai diri sendiri. Karena saya paling benci sama orang yang misuh di media sosial karena tidak mendapatkan haknya atau dijahatin orang, tapi tidak menunjukkan indikasi melawan. 

Rasanya gatal ingin nanya dia itu menghargai diri sendiri tidak sih? Oh oke, kemungkinan tidak mau membuang tenaga untuk hal seperti itu pasti ada. Hanya saja tidak masuk akal kalau sikap ini sudah terulang berkali-kali dan tidak ada aksi nyata kecuali mengeluh di medsos. 

Oh jangan dipikir saya tidak mengeluh juga di medsos, tapi keluhan itu mayoritas karena diri saya sendiri yang kurang motivasi. Bukan karena hak saya diambil dan memilih diam. 

🍈 Berpikir/Diskusi Sebelum Mengambil Kesimpulan 
Karena tidak ada masalah tanpa ada penyebab. Bahkan kadang sampai saya mencari jurnal untuk hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Tujuannya biar pendapat pribadi ini ada validasi secara ilmiah aja sih, lol. 

Hanya saja khusus hal berhubungan dengan emosi, jurnal saja tidak cukup. Kita harus memiliki empati yang mana di saya ini fail banget untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Biasanya kalau yang ini, saya bakalan diskusi dengan teman yang punya satu value dengan saya. Agar diskusinya dua arah dan saya tidak terburu-buru menilai sikap final seseorang. 

Karena menurut saya, manusia itu kompleks dan kayaknya mau jutaan jurnal menjelaskan soal emosi manusia, akan ada beberapa rangkaian emosi yang pada akhirnya tetap tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. 

🍈 Tempramental
Sebenarnya lebih spesifik, saya tukang ngomel. Biasanya kalau benar-benar marah begini, semuanya bakalan saya ungkit sampai puas mulut ini ngomong. Kadangkala rasanya tidak sejalan dengan poin di atas karena ya itu, emosi duluan yang mengambil alih daripada logika. 

Biasanya sih kalau PMS. *alah sok-sokan menyalahkan hormon 😪*

Saya bukan tipe orang yang tiap saat bakalan marah-marah. Malah kalau lagi keadaan biasa, hal yang harusnya bikin emosi biasanya dibawa kalem aja. Hanya saja namanya manusia itu punya batas kan ya, kalau sudah sampai batasnya yasudah bubar jalan kontrol diri menjadi anggun dan kalem. Semua salah orang tersebut, bahkan hal paling cemen juga akan saya ungkit. Pokoknya sampai saya puas! 

Lalu saya merasa bersyukur tidak punya pacar. Aduh kasihan Masnya harus tabah mendengarkan omelan saya yang tiada henti kalau tengah masanya. 

Meski ya kalau lihat kulit ayam KFC yang saya buang karena alergi suka mendadak berpikir mau punya pacar biar itu dimakan

🍈 Perfeksionis 
...dalam hal tertentu, lol. Karena nyatanya ada beberapa hal yang tidak mau saya atur-atur karena ya masa bodoh aja gitu. 

Beneran, saya tipe anak yang kalau satu jadwal sudah dilanggar maka selamanya bakalan gagal. Makanya saya bete banget sejak kemarin gagal terus mengumpulkan niat menulis to do list di HP. 

Saya benar-benar perfeksionis kalau urusan berhubungan dengan menulis. Entah itu menulis blog, menulis cerita fiksi dan bahkan menulis non fiksi seperti makalah dan sekarang saya kerjakan, TA. Saya benar-benar jahat mengkritik diri sendiri, karena dulu berpikir kalau bisa keras pada diri sendiri maka kalau ada orang menghina tulisan saya bakalan kalem. 

Iya benar itu terjadi, tapi jatuhnya saya malas nulis karena baru dapat selembar sudah mengkritik kejam. Cuma waktu itu masih pakai alasan kalau itu hanya sedang bosan, sampai digetok oleh paragraf blogger favorit saya. 

Soal menulis ini pantas untuk punya postingan sendiri. Intinya, saya memang perfeksionis banget kalau urusan menulis.

(Update: Menerima Kekurangan Tulisan)

🍈 Gampang Iri
Sesungguhnya hal yang tidak saya anggap sebagai sebuah kekurangan, lol. 

Karena gimana ya, saya kalau iri sama seseorang malah justru bersemangat untuk menjadi versi yang lebih baik. Bukan nyinyir mencari hal negatif orang tersebut, karena kenapa kurang kerjaan sekali? 

Kenapa coba tidak mengubah energi iri itu menjadi hal positif? 

Biasanya, saya irinya pada bagian orang yang konsisten menulis. Karena melihat konsistensi orang tersebut, biasanya malah berefek dengan saya yang rajin menulis. Ya tidak apa-apa temanya mirip, asalkan cara penyampaiannya berbeda. Karena menurut saya semua orang pasti awalnya mencoba mengkopi idolanya. Kalau merasa itu bukan jiwanya, lama-lama akan belajar untuk menjadi suaranya sendiri dalam tulisan. 

Iya, saya secinta itu dengan menulis makanya semua contoh pakainya soal tulisan. 

🍈 Tidak Bisa Mengontrol Suara
Yang mana bikin saya stres sendiri karena suara saya tuh kalau lagi bersemangat atau kesal memang tidak bisa dikontrol. Mana kadang suka tidak tahu lokasi, yang membuat saya berakhir sering memilih gerakan tutup mulut. 

Saya memang introvert, tapi bukan berarti saya tidak suka ngomong! Saya suka ngomong, sama orang-orang tertentu. Iya, kalau pola pikirnya asik dan orangnya seru. Kalau dia masuk kategori ini, meski orangnya ngomong blak-blakan, saya tidak akan sakit hati. 

Karena saya lebih suka orang jujur nyelekit daripada terlaku berusaha untuk baik, tapi aslinya mau ngomong jahat di belakang sana. 

🍈 Sopan
Karena ya menurut saya, cara termudah menghargai orang lain adalah dengan bersikap sopan. Sopan tidak hanya kepada orang tua atau orang yang punya jabatan penting, karena orang yang bekerja karyawan rendahan seperti satpam, OB, pelayan di restoran dan bahkan tukang parkir sekali pun harus dihargai. 

*Sebenarnya sih banyak yang harusnya ditulis profesi karyawan rendahan, tapi intinya dapat ajalah harusnya*

Karena sesederhana, "permisi," saat lewat di depan orang tua yang bahkan tidak tahu namanya siapa, tetapi berjarak terlalu dekat dengan diri ini termasuk menghargai. Atau bilang "maaf saya menginjak lantainya," saat harus menginjak lantai yang baru dipel. Ada banyak cara menjadi sopan kepada semua orang dan tidak harus dengan cara yang wah banget. 

🍈 Jujur 
Karena menjadi jujur itu sepertinya sudah langka sekarang ini dan pernah saya ceritakan kalau menjadi jujur itu melelahkan.


Tulisan tidak penting begini saja ternyata panjang ya? Intinya, beginilah saya dan memang banyak tidak cocok dengan kepribadian saya satu sama lainnya. Padahal manusia itu kan dinamis, menggunakan topeng emosi tertentu untuk situasi tertentu. Juga jika di masa depan nanti ada orang yang kepo membaca ini dan merasa saya palsu, tidak apa-apa. Saya menghargai pendapat kamu, tapi saya sudah merasa cukup dengan definisi diri sendiri yang tertulis di sini. 


Lalu setelah saya tanya kepada teman kenapa bertanya hal ini, katanya dia tidak tahu harus mendefinisikan dirinya seperti apa karena terlalu banyak perubahan yang terjadi selama setahun terakhir. Sampai dia tidak bisa mendefinisikan dirinya sendiri.

Ternyata mendefinisikan diri sendiri itu bisa berubah ya seiring waktu.

2 komentar :

  1. huau..
    ini mendefinisikan diri sendiri serupa dengan menantang diri sendiri ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak juga sih mbak. Saya lebih merasa mendefiniskan diri itu berarti kenal dengan diri sendiri dan tahu harus melakukan apa untuk membuat diri sendiri bahagia

      Hapus