Mempertanyakan Tugas Akhir dan Masa Depan

Sabtu, 12 Mei 2018


Saya hanya memikirkan kenapa memilih overpressure ini sebagai tugas akhir?

Hanya ingin berandai-andai, jika saja saya memilih topik lain yang misalkan saja produksi atau pemboran, apakah saya sudah sidang? Bukan duduk di KFC dan memesan mocca float di hari sedingin ini (saat saya menuliskan ini, cuaca mendung dan suhu 27 derajat celcius).

Bukan menyesali, saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg ini karena menterjemahkan thesis S-3 orang yang berkuliah di Inggris tahun 2010 untuk bab 3 dasar teori. Saya memang banyak belajar hal baru dari menterjemahkan ini, tetapi apakah pada akhirnya semua itu akan berguna?

Teman saya bilang jangan pesimis, tetapi nyatanya saya tidak bisa untuk menyingkirkan hal tersebut. Lulus tidak tepat waktu mungkin masih bisa termaafkan jika IPK bernilai 3. Sementara saya? IPK saya tidak akan mungkin bernilai seperti itu meski sidang nanti mendapatkan A sekali pun. Saya juga bukan orang yang berorganisasi, jadi apa nilai saya di mata perusahaan?

Mungkin pada akhirnya tugas akhir ini hanyalah berakhir sebagai tugas terakhir sebagai mahasiswa Teknik. Setelahnya, mungkin saya tidak akan bekerja di dunia migas, karena nilai saya memangnya berharga?

Percuma saja jujur kuliah selama ini kalau nilai saya tidak bagus.

Memangnya orang peduli jika orang tersebut jujur kalau pada saat penyoltiran nilainya tidak memenuhi kriteria? Orang hanya menilai dari apa yang terlihat dan jujur itu tidak bisa ditampilkan dari nilai IPK.

Jangan bilang ada interview segala macamnya, karena pertama kali disoltir adalah kriteria yang sudah dicantumkan. Kalau nilai IPK saja sudah tidak lolos, kenapa orang mau membuang-buang waktu untuk interview orang yang tidak sesuai dengan persyaratan?

Pada akhirnya ini isinya negatif lagi, yasudah biarlah. Lagi tamu bulanan datang dan bisa menyalahkan hormon karena pemikiran negatif ini, lol.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar