(Bukan) Tentang Siapa yang Bersalah

Selasa, 01 Mei 2018


Kepikiran menuliskan ini karena bete dengan tag diskon dan sales obat di salah satu apotek yang saya datangi hari Senin malam. Lalu berakhir merenung, kenapa saya harus menyalahkan orang lain atau menyalahkan diskon?


Kalau ditelaah lagi menurut catatan Daylio, saya keluar rumah dalam keadaan kesal. Pasalnya saya pergi saat jam setengah 9 malam, karena Ayah saya meminta membelikan obat. Saya jelas kesal karena kenapa tidak meminta pergi jam 7 malam?

Sepanjang jalan, saya berusaha menetralkan perasaan saya dan mengambil uang di ATM. Begitu sampai di Apotek, saya dihampiri oleh sales obat. Biasanya saya menolak, entah kenapa hari itu saya membiarkan. Saya sebutkan hendak membeli apa dan sebenarnya perasaan saya merasa tidak benar. Untuk jga-jaga, akhirnua saya membeli 1 obat batuk lagi yang memang biasa saya minum.

Saat di kasir, saya bingung kenapa pembayaran sampai 262 ribu, tetapi tetap saya langsung bayar. Saat menerima struk, saya langsung terdiam. Karena obat yang tadi ditawarkan oleh sales itu ternyata harganya 175 ribu, padahal di raknya tertulis 20 ribu.

Tentu saya kesal, tetapi saya menyimpan dalam hati. Sampai rumah, kekesalan itu masih ada dan saya memaksakan diri untuk membawa tidur. Karena itu salah saya sepenuhnya dan hari Selasa pagi, saya baru merenungkannya.

Sales obat itu mungkin salah, tetapi bukankah kenyataanya hasil akhir berada di tangan saya? Seharusnya saya yang waspada, bukan orang lain yang harus memiliki empati kepada orang lain. Karena sales obat itu hanya menjalankan tugasnya, menjual produk dari perusahaanya dan mengejar target penjualan bulan itu.

Saya mungkin juga salah, karena keluar rumah dengan perasaan yang tidak menyenangkan. Uang 175 ribu itu mungkin tidak akan hilang jika saya tidak marah-marah saat bersiap pergi dan saya bisa berpikir jernih. Bisa menuruti perasaan saya yang bilang kalau obat tersebut terasa tidak benar untuk dibeli.

Intinya, kalau melakukan sesuatu harus ikhlas. Jangan sambil marah-marah atau kesal atau pamrih, hasil akhirnya malah biasanya mengecewakan. Seperti judulnya, ini bukan tentang siapa yang benar-benar bersalah, karena semua orang di cerita ini punya andil masing-masing.

Seperti kata saya kepada teman, blog ini memang didedikasikan untuk menampung nyek-nyek agak berkelas dari saya. Kalau nyek-nyek nyebelin biasanya saya main Twitter.

2 komentar :

  1. Benar sekali, kalau bawaanya kesal mau ngelakuin apapun jdinya gg optimal bahkan cenderung buruk. Salam kenal ya mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga ya mbak. Makasih udah mampir dan meninggalkan komentar

      Hapus