Rabu, 16 Mei 2018

Ama

Ternyata butuh waktu dua hari untuk saya akhirnya bisa menuliskan hal ini. 


Jadi, Ama saya meninggal. Tepatnya hari Senin lalu beliau meninggal. Saya mendengar sejak hari Minggu jika keadaan beliau sudah memburuk dan entah kenapa pada hari Senin saya bisa bangun pagi. 

Bangun pagi bagi jam tidur saya yang acak-acakan ini, artinya jam 7 pagi. Saya sedang mengupas bawang merah saat mendengar Ayah saya tiba-tiba bilang dengan suara bergetar, "Ama meninggal."

Saya berhenti mengupas bawang dan berhenti memikirkan kematian sejenak. Karena jujur saja, sejak saya membuka mata sampai sebelum mendengar perkataan Ayah, pikiran saya entah kenapa ienuhi dengan pemikiran tentang kematian.

Sorenya, Ayah saya mengirimkan gambar di WA dan gambar itu ada di bawah ini.

Kalau kalian tidak mengerti, gambar ini adalah iklan kematian di koran.

Masih terasa surealis sampai sekarang, sampai saya mengetikkan ini. Terlalu banyak yang saya pikirkan saat melihat gambar di atas dan membuat saya lebih banyak diam untuk berpikir. 

Lebih kepada mempertanyakan, apakah semua yang saya lakukan Senin lalu itu adalah pertanda?

Saya tidak pernah bisa bangun pagi, kecuali saya tahu harus melakukan sesuatu yang penting saat pagi hari. Lalu hari Senin, saya bangun jam 7 pagi. Tanpa alarm, tanpa teriakan untuk segera bangun untuk membantu Ibu saya dan saya tidak bergumam tidak jelas karena kesal bangun pagi.

Oh benar, dulu saya pernah tinggal bersama Ama waktu kelas 2 SMP dan jam bangun siang saya adalah sampai jam 7 pagi. Lewat dari itu, saya akan dipaksa untuk bangun dan mandi.

Hari Senin itu, saya mengupas bawang merah. Benda yang tidak pernah saya bisa dapatkan selama hampir tiga bulan tinggal bersama Ama.

Saya hampir tidak pernah makan masakan yang menggunakan bawang merah selama tinggal bersama Ama. Karena beliau hanya memasak bahan makanan dengan bumbu bawang putih dan beliau juga vegetarian.

Hari itu, entah kenapa saya terus berpikiran tentang kematian. Bukan tentang saya yang mati meski jujur saya sering memikirkan hal itu belakangan ini tetapi memikirkan bagaimana perasaan orang yang ditinggal pergi. Tidak tahu, hari itu saya berpikir tentang orang yang meninggal karena sakit serta yang meninggal tanpa pamit, atau bahasa sederhananya meninggal mendadak.

Lalu hari itu, saya dikirimkan foto yang merupakan iklan kematian. Saya tahu itu iklan kematian karena waktu tinggal di Pontianak, saya sering membaca koran dan selalu merasa konyol serta aneh orang menyewa halaman besar untuk mengiklankan kematian seseorang. Hal yang waktu pemikiran anak SD terasa konyol, sekarang terasa seperti surealis.

Karena saya tidak pernah membayangkan orang yang saya kenali akan masuk di iklan kematian tersebut.

Sepupu saya itu mungkin akhirnya bahagia karena tidak perlu melihat Ama lagi. Apek (Kakak Ayah saya) pasti paling terpukul karena Ibunya akhirnya pulang kepada pencipta, meski saya tahu beliau sudah punya firasat bahwa Ama tidak akan bertahan lebih dari 2 bulan semenjak kunjungan saya ke Pontianak.

(Silahkan baca ini untuk mengerti maksud saya tentang sepupu yang bahagia: Semua Ada Batasnya)

Saya berharap, Ama pergi dengan tenang. Setidaknya Ama sudah melihat kelima anaknya pada saat terakhirnya. 

Mengingat Ama yang terakhir kali saya temui membuat saya ingin menangis, karena beliau sebenarnya sudah tidak bisa mengingat siapa pun kecuali Apek. Itu pun karena beliau mengurus Ama setiap hari. Hanya saja, entah kenapa Ama mengingat Ayah saya dan Tuako (adik perempuan Ayah saya, anak ketiga Ama) saat kami hendak pamit pergi ke bandara.

Pada akhirnya, Ama saya sudah berpulang. Meski agama kami berbeda, saya hanya bisa mendoakan dari sini. Mendoakan semoga beliau diberikan tempat terbaik di sana dan saya tentu tidak bisa datang ke Pontianak, karena selain harus fokus dengan TA juga karena Ayah saya kesehatannya sudah tidak memungkinkan naik pesawat.

Teruntuk Ama, terima kasih karena dulu mau merawat saya selama hampir tiga bulan. Menjadi satu-satunya orang yang membela waktu ada orang lain mengatakan saya bodoh meski saya tidak mengerti satu kata pun orang tersebut katakan karena menggunakan Hokkien. Juga karena tidak pilih kasih kepada cucunya meski pun saya tidak 100% keturunan Cina.

3 komentar:

  1. Turut berduka cita ya 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, makasih ya udah berkomentar :')

      Hapus
  2. semoga Ama nya diterima di sisinya mak.

    Tyaseta penulis di
    www.kartunet.com
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    BalasHapus