Sabtu, 14 April 2018

Semua Ada Batasnya

Ditulis setelah bisa menata emosi karena mendengar berbagai hal di Pontianak. Postingan ini saya yakin akan panjang (dan memang benar adanya).


Tanggal 29 Maret 2018 akan menjadi hari di mana saya bisa merasa sesak dan ingin menangis saat mendengar sepupu saya mengatakan hal yang dirasakannya. Rasanya sesak dan ingin berkata kasar, tetapi kenyataannya saya memilih mendengarkan. Sesekali saya melirik pintu kamar yang tertutup, memikirkan apakah orang yang berada di dalam sana mendengarkan percakapan ini?

Meski beliau lumpuh serta tidak bisa berbicara karena stroke, juga mengalami kepikunan karena faktor usia, entah kenapa saya yakin percakapan ini didengar olehnya. Saya membelokkan pembicaraan dan akhirnya beristirahat di hotel jam 7 malam.

Malam itu, saat saya mandi, untuk pertama kalinya saya menangis di bawah guyuran shower. Terlalu menyesakkan dan mempertanyakan harus dari siapa untuk dipersalahkan?



Saya memanggil beliau dengan sebutan Ama. Beliau menolak dipanggil Nenek, alasannya dia orang Cina dan harus Ama. Awalnya saya terus memanggil Nenek, tetapi beliau terus mengomel dan berakhir saya memanggilnya Ama. Waktu itu, saya masih TK nol besar.

Beberapa tahun kemudian, saya pindah ke Pontianak. Tepatnya saat saya naik kelas 4 SD dan awalnya Ama dan keluarga Apek (Kakaknya Ayah saya), tinggal 1 gang. Lalu tidak lama setelahnya, mereka pindah ke rumah baru. Rumah yang saya datangi selama di Pontianak beberapa waktu yang lalu.

Kenangan saya dengan Ama cukup lucu dan sedih. Lucu adalah, saya sejak dahulu kala tidak bisa bangun pagi. Apalagi jika hari libur  dipastikan bangun jam 10 pagi bahkan sampai sekarang masih seperti itu dan beliau sering datang ke rumah. Sebelumnya, beliau akan menelepon jam 7 pagi, memberi kabar jika akan datang. Hari Minggu pagi saya dipastikan akan dimulai dengan loncat dari kasur jika mendengar Ama akan datang dan membereskan kamar serapi-rapinya.

Ama adalah kedisplinan, itu yang selalu saya ingat darinya.

Kalau datang berkunjung, biasanya beliau tidak sendiri. Akan ada sepupu saya yang bernama Meylie atau Monglie (saya menggunakan nama Cina mereka ya di sini), meski lebih seringnya sepupu saya yang paling kecil. Benar, namanya Monglie.

Saat SMP kelas 8, ada masalah keluarga yang menyebabkan saya berakhir tinggal di rumah Apek. Saya ingat, dua bulan itu saya tinggal di kamar Ama dan tidur bertiga dengan Monglie. Setelahnya, saya kembali dengan Ibu saya dan naik kelas 9, saya pindah ke Balikpapan.

Saya pikir, 10 tahun tidak pernah ke Pontianak pasti akan memberikan banyak perubahan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan diri jika Ama tidak mengenali saya atau pun Akong akan mengabaikan saya saat sampai. Karena saya bukan cucu favorit mereka, wajah dan sikap saya terlalu condong ke Melayu daripada Cina dan saya sudah memaklumi jika menghadapi seperti itu.

Namun, saya tidak pernah menyiapkan diri untuk mendengarkan langsung dari mulut Monglie bahwa dia membenci Ama. Saya benar-benar terdiam saat mendengar hal ini dan dia seolah tahu keterkejutan saya, sehingga menjelaskan semuanya. Pada akhirnya, saya hanya bisa mendengarkan dan saya rasa tidak bisa dan juga tidak pantas menasehatinya.

Hanya bisa bilang kalau dulu dia kesayangan Ama dan yang bikin aku patah hati padahal diselingkuhi pacar aja gak sakit hati karena reaksinya, "masa? Aku dulu disayang banget sama dia? Gak mungkin lei."

Intinya, saya sedih banget selama di Pontianak karena ini.



Saya tidak akan menceritakan penyebab sepupu saya jadi membenci Ama, karena posisinya di sini keduanya sama-sama punya salah. Juga, ada reputasi Ama yang harus saya jaga (meski pun, dari sisi mana pun sebenarnya lebih baika aib daripada kebajikan yang ada). Hal yang ingin saya bahas adalah, ternyata semua ada batasnya.

Rasa sayang dan pemakluman itu ada batas waktunya. Saat semua itu sudah melewati batasnya, rasa sayang bisa berubah menjadi benci dan semua kenangan indah itu tidak ada harganya lagi. Lalu saya mellow karena yang tersayang saja bisa berbalik menjadi pembenci nomor satu, lantas bagaimana jika yang merasa disisihkan?

Pelajaran yang saya bisa dapatkan dari cerita Monglie dan Ama adalah, jangan membeda-bedakan rasa sayang kepada anggota keluarga. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan dan tidak ada yang menjamin orang yang disayang banget akan tetap menyayangi kita. Meski tetap saja, kalau diingat kembali, rasanya menyesakkan.

Teruntuk kamu di masa depan (jika memutuskan membaca ulang entri blog ini), saat berkeluarga nanti, jangan membedakan rasa sayang kepada anggota keluarga ya. Menjadi adil memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa diusahakan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar