Senin, 30 April 2018

Memikirkan Perasaan Orang Lain

Tumben punya empati sama orang lain sampai angkat tema ini? 😪

Sinis benar sama diri sendiri sis.


Jadi salah satu teman saya dekat dengan temannya (ya sista ribet sekali bahasanya) dan saya menahan diri untuk tidak gengges. Berusaha menjawab netral dan meski beberapa kali 'hampir' kelepasan untuk cengin, saya lebih memilih bilang, "tolong hargai saya yang berusaha menahan diri untuk tidak ngomong dong."

Lalu kepikiran, apakah orang lain memiliki teman seperti saya? 

Sombong banget membandingkan dengan saya, padahal ini orangnya kadang suka tidak pakai hati kalau komentari sesuatu. Namun, serius saya jadi teringat pengalaman sendiri orang lain kalau bercerita dengan temannya jika dekat dengan seseorang. Pasti dicengin dan tahu-tahunya tidak sampai 24 jam, hampir semua orang tahu.

Dulu bakalan saya tertawakan, karena lucu dan gemas gitu. Kalau itu terjadi sekarang, mungkin malah membuat saya berpikir beberapa kemungkinan.

Pertama, siapa pun yang menyebarkan ini pantas untuk di unfriend. Beneran, saya bakalan kesal banget karena sudah pasti dicengin waktu cerita dan bukannya mendengarkan sampai selesai karena sibuk memberikan petuah sotoy malah membuat semua orang mengetahui hal yang dipercayakan untuk disimpan sendiri.

Punya otak hati tidak sih saat menyebarkan ke orang-orang tentang apa yang diceritakan itu? 😩

Kedua, malah bikin awkward moment sama orang yang bersangkutan. Tetap bersikap biasa bakalan dicengin, dijauhi malah diejek karena pemberi harapan palsu.

Memangnya lawan jenis lagi agak dekat pasti ada apa-apanya? 🙄

Ketiga, jadi semua orang punya ekspetasi kalau yang tengah dekat ini bakalan jadian. Iya kalau menjadi, kalau akhirnya menjadi orang asing? 😪

Nulis tiga point aja sudah emosi sendiri,

Padahal temannya cerita pasti hanya ingin didengar. Sebenarnya tidak apa-apa kalau heboh cengin, ASALKAN KALAU DILAKUKAN BERDUA AJA. Jangan saat banyak orang atau nyeplos di grup dan saat pada kepo, malah dengan semangat membuka cerita temannya.

Iya mungkin saat itu dia hanya tersenyum, tetapi siapa yang tahu hati orang? Pasti ada yang merasa dikhianatin dan sedih, padahal sudah percaya kalau bakalan dijaga ceritanya agar orang yang diceritakan tidak tahu.

Mana kalau ada yang marah sama temannya pasti dibilang, "ih baperan banget sih. Kita tuh dukung kamu tahu gak sih?"

Mendukung dari belah mana ya kalau boleh tahu? Yang ada malah bikin orang sakit hati dan memploklamirkan diri kalau tidak bisa menjaga rahasia 😪

Jadi, kalau dihadapkan dengan situasi seperti ini dan ingin menghindari menjadi orang gengges gimana? Jangan bisanya menghujat aja dong.

Makanya saya menuliskan ini, agar tidak menjadi orang gengges pada lingkungan pertemanan kalian. Ini hanya beberapa hal yang bisa saya sarankan, silahkan di improviasi jika tidak ada di list.

Menjadi Pendengar
Sungguh klise sekali saran ini, tetapi memang itu tujuan orang lain bercerita. Untuk didengarkan dan jadilah pendengar yang baik. Tanyakan saja hal-hal umum yang dia rasakan dan kalau misalnya dia membawa topik lain untuk dijadikan pengalihan topik, ikuti.

Jangan kepo dengan maksa-maksa teman untuk menceritakan hal yang dia tidak inginkan. Karena memangnya mau dianggap gengges? 😪

Tidak Langsung Sotoy Menyimpulkan
Karena sesungguhnya hidup itu tidak semudah itu. Orang baik dengan kita belum tentu ingin menjadi sesuatu dalam kehidupan kita. Bisa saja dia memang orangnya baik kepada semua orang dan termasuk dengan orang yang bercerita ini. Anggap saja saat mendengarkan cerita teman, orang ini memang berkepribadian baik.

Kalau yang bercerita yang sotoy kalau dia ditaksir, kita punya dua pilihan. Pakai logika untuk menduga kalau orangnya memang hanya kebetulan memberikan perhatian lebih. Atau bisa juga menjadi orang yang heboh kalau memang orangnya naksir temanmu.

Kuncinya, jangan sotoy di awal, kecuali dikasih lampu hijau untuk sotoy.

Angkat Topik Lain Sebagai Pengalihan Isu
Kadang, jiwa ingin mengecengi itu kuat banget dan kalau begitu lebih baik bicarakan hal lain. Bukannya tidak mau mendengarkan, tetapi kadangkala ada hal-hal tertentu yang harus dihindari dengan tampak tidak peduli.

Juga ini berlaku kalau yang bercerita sudah mati gaya menceritakan orang yang dekat dengannya. Daripada dia merasa ceritanya menyebalkan, lebih baik diajak mengobrol hal lainnya bukan?

Terus....

Gagal mencari ide lainnya.

Intinya, kalau bersikap biasakan untuk memikirkan perasaan orang lain yang dianggap penting. 

Tidak apa-apa sih kalau tidak mau peduli, tapi jangan berharap orang lain akan peduli dengan perasaan kita. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar