Hemodialisa, Mimpi dan Bertahan Hidup

Jumat, 27 April 2018

Judulnya agak gimana ya? Hanya saja, saya berpikir harus menuliskannya karena ingin mengarsipkannya di sini.


Tanggal 25 April 2018 siang, saya pikir akan menjadi hari garing seperti biasanya. Karena saya menunggu Ayah selesai cuci darah dan biasanya, pasien yang waktu cuci darah Siang sudah datang. Hari itu saya melihat seorang Ayah dan anak, tengah berjalan menuju pojokan. Tepat di sebelah kasur Ayah saya. 

"Ah, mungkin Ayahnya cuci darah." Begitu pikir saya, karena biasanya seperti itu adanya. Banyak anak yang menjaga Ayah atau Ibunya saat cuci darah, seperti yang saya lakukan. 

Namun, saya jelas bingung saat sang Ayah duduk di kursi penunggu. Lebih bingung lagi saat anak laki-lakinya malah membuka baju dan semua atensi di sekitar langsung ke arahnya. Karena kami tidak pernah melihatnya sebelumnya, apalagi tampaknya dia terlalu muda untuk menjadi salah satu yang bertemankan mesin hemodialisa. 

Tidak lama kemudian, Ibunya datang bersama seorang perempuan paruh baya. Mungkin tantenya dan tangan sang Ibu membawa sekotak KFC serta air mineral mini. Mata beliau tampak berkaca-kaca dan saya urung hendak bertanya soal anaknya. Tidak lama kemudian, mereka berdua keluar dan Ayahnya kembali lagi menunggu anaknya. 

Dari yang saya dengar saat perawat bertanya pada anak tersebut, dia lahir tahun 1999. Seumuran adik saya dan katanya tahun ini baru selesai UN SMA, sama seperti adik saya. Membuat saya berpikir dan pada akhirnya bertanya kepada diri sendiri tentang berbagai hal. 

Bagaimana perasaanya saat tahu hidupnya akan dihabiskan dengan bolak-balik ke rumah sakit? 

Karena dari yang saya dengar, dia seminggu 2x cuci darah. Rumahnya di Panajam sana, harus menyeberang dengan Feri selama 1 jam untuk ke Balikpapan. 

Apakah dia akan kuliah? Atau mungkin dia sebenarnya diterima di SNPTN universitas impiannya. Atau mungkin, dia sudah berencana mengikuti SBMPTN. 

Impian.

Mimpi yang belum sempat diwujudkan. 

Membuat saya kembali berpikir, orang-orang yang menjalani hemodialisa ini pasti punya mimpi yang terpaksa terhenti. Atau mungkin, karena mimpi itulah mereka bertahan sebisa mungkin untuk melihatnya terwujud. 

Seperti Ayah saya yang berulang kali bilang sudah capek dengan rutinitasnya cuci darah, tetapi tetap dilakukan karena ingin melihat saya wisuda dan kerja. 

Seperti seorang bapak muda yang menjadi salah satu pasien hemodialisa, memiliki 2 anak yang masih kecil. Tatapannya yang selalu sedih, entah apa yang dipikirkannya. 

Seperti seorang Ibu yang selalu menatap Putrinya yang seumuran dengan saya dengan sedih, karena harus menungguinya. 

Seperti orang tua dari pasien baru di sebelah Ayah saya yang tampak sedih dan terpukul. Entah apa saja yang dipikirkan oleh mereka saat tahu anaknya harus bergantung dengan hemodialisa untuk hidup. 

Bertahan hidup terdengar terlalu dilebih-lebihkan? Mungkin bagi orang yang tidak melihat langsung atau orang disekitarnya mengalami hal ini, bertahan hidup dengan mesin hemodialisa terasa lebay. Nyatanya, memang seperti itu adanya. 

Mengeluarkan cairan dari tubuh dan membuang racun yang tidak bisa dilakukan oleh ginjal. Semua dilakukan dengan tujuan ingin bertahan hidup. Entah berapa lama tubuh mereka mampu bertahan, tetapi mereka ingin berjuang. Demi orang yang mereka sayangi. 

Meski saya tahu, rata-rata harapan hidup mereka tidak sampai 10 tahun. Bisa sampai pada angka 8 tahun saja sudah keajaiban dan selama 2 tahun menunggu Ayah saya cuci darah, saya sudah melihat banyak orang datang dan pergi. Entah pergi karena menemukan cara yang lebih baik untuk bertahan hidup atau sudah waktunya kembali pulang. 

Sakit memang tidak mengenal usia, tetapi sakit gagal ginjal jelas ada penyebabnya. Minum soda, merokok, minum miras oplosan yang isinya ampun-ampunan kacau dan pola hidup yang tidak sehat. Bahwa semua pilihan kita akan memberikan konsekuensi. 

Sehat itu mahal harganya. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar