Karena Saya Lebih Mengutamakan Logika daripada Perasaan

Minggu, 04 Maret 2018

Sepertinya kebiasaan lama saya yang suka menulis judul panjang kembali lagi.


Karena iseng ikut test MBTI di www.16personalities.com dan hasilnya tetap sama seperti tahun 2015, INTJ. Lalu berniat membuat analisisnya dan sudahlah, anggap saja saya ingin melatih diri untuk konsisten menulis.

Hanya saja, MBTI itu apa sih? Terus kenapa saya sampai tahu kalau kepribadian saja INTJ?
Myers-Birggs Type Indicator (MBTI) adalah psikotes yang dirancang untuk mengukur prefensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. MBTI dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers sejak tahun 1940. Psikotes ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan tipe kepribadian seseorang
(sumber wikipedia)
Saya tahu INTJ karena saya ikut tes di www.16personalities.com dan seperti nama webstienya, ada 16 kepribadian di dunia ini. 16 kepribadian ini dibagi menjadi 4 kelompok besar yang bisa dilihat di bawah ini ya.

Hasil tes ini tidak bisa dibilang benar-benar akurat sih, tapi kalau untuk tahu garis besar kepribadian kita ya cukup benar. Serta alasan saya menjelaskan semua ini, karena jujur kadang capek karena hal tidak berguna dianalisis benar oleh saya.

Terutama, soal perasaan. Saya meski suka menulis cerita cinta, saya sendiri tidak merasakan urgensi harus jatuh cinta. Apalagi cowok yang saya temui selama ini tidak ada yang bisa mengimbangi pola pikir saya. Kebanyakan terlihat bodoh saat saya mengajak mengobrol dan sudahlah, diajak mengobrol saya saja tidak bisa menjawab, apalagi nanti jika dibawa ke jenjang serius bukan?

Jujur saya introvert. Benar-benar orang yang tidak bisa betah dikeramaian. Saya benar-benar lelah kalau keluar rumah, padahal hanya pergi ke sekitar rumah. Bisa dibayangkan kalau saya bertemu banyak orang asing? Saya langsung terkapar di rumah.
People with the INTJ personality type are imaginative yet decisive, ambitious yet private, amazingly curious, but they do not squander their energy.
Meski saya pengguna logika, sebenarnya imajinasi saya pun masih jalan. Cuma ya itu, imajinasi saya tidak sampai level halu. Karena bagaimana ya, membayangkan sesuatu saja, sama saya harus dibuat semirip realitas.

Makanya saya penentang paling depan pada fangirl yang menganggap oppa is mine. Tidak realistis di akalnya saya.

(baca juga Idola Bukan Milik Fans)

Saya juga sadar kalau diri ini tipe ambisius. Semua harus sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan dan kalau gagal, setidaknya ada cara lain yang sudah dipersiapkan untuk mencapai tujuan. Meski begitu, saya juga agak tertutup.

Kalau dibilang tertutup banget sih, tidak. Buktinya masih menulis di sini, tapi memang jarang banget cerita masalah ke media sosial. Palingan cerita dengan 1 teman, lalu ditanya kesimpulannya apa? Makanya saya lebih betah cerita dengannya, karena apa yang saya misuh-misuhin akan mendapatkan konklusinya.

Kalau penasaran, saya rasa semua orang pasti tipe penasaran. Hanya saja, saya penasarannya cenderung ke arah yang dirasa penting saja. Bukan penasaran ke gosip murah, karena ya menurut saya dari kejadian itu dapat hikmah positif apa?

Saya mau penasaran pada sesuatu bukan hanya karena memuaskan rasa penasaran, tetapi juga ada nilai yang bisa dijadikan pembelajaran. Iya, ribet banget saya hidup. Padahal harusnya ya enjoy ajalah dengan segala kerecehan yang ada.
While they will never be comfortable with a truly public display of emotions, INTJ can learn to use them, to channel them alongside their logic to help them achieve their goals.
Meski pun seringnya saya dibilang tidak punya perasaan dan tidak punya hati oleh teman-teman kampus, kenyataanya saya mudah iri. Iri yang seiri-irinya, tapi setelah itu dianalisi. Setelah itu, energi ini akan saya gunakan untuk memacu diri mencapai target.

Memang terdengar aneh, rasa iri, dengki dan teman-temannya itu bisa diubah menjadi cara untuk memacu diri. Hanya saja kan dasarnya saya menganalisi, jadi semuanya akan lihat dari kacamata logika. Lagipula, jangan memaksa diri untuk selalu berpikiran positif.

(baca juga Kadang Pesimis Pada Kehidupan Itu Perlu)

Saya kadang merasa melihat orang yang terlalu menuangkan perasaan ke media sosial sebagai attention seeker, tapi setelah dipikirkan kembali ya mungkin itu caranya menenangkan diri. Kalau saya menenangkan diri dengan menganalisi semuanya dan menarik kesimpulannya. Kalau orang lain, yang penting perasaanya sudah didengarkan oleh orang-orang dan dibantu menyelesaikannya.

Menjadi orang yang mengutamakan logika itu seru, karena jadi tahu banyak hal. Bisa mencoba menempatkan diri dari berbagai sudut pandang dan paling terpenting, tidak baperan kalau dikritik.

Meski kayaknya ada yang kesal saya disindir kok tidak marah.

Bukan berarti yang mengutamakan perasaan jauh lebih rendah dari yang mengutamakan logika, tidak seperti itu. Bagi saya, yang terpenting bagaimana individu itu sendiri menyikapi saat berhadapan dengan suatu masalah.

Memilih menggunakan logika atau perasaan?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar