Barbie Vlog

Rabu, 24 Januari 2018

Sebenarnya ingin menuliskan ini sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya sedang dalam masa chaos. Sekarang sudah mendingan dan saya bisa mengupdate hal-hal yang terjadi.


Namun, saya tidak tahan menuliskan ini. Karena siapa yang tidak kenal Barbie? Masa kecil saya dihabiskan dengan menonton Barbie dan sedih sebenarnya, zaman sekarang sepertinya pada lupa bagaimana serunya main boneka ini karena kerasnya kehidupan.

Lalu teman mengirimkan link dan saya langsung fangirl. Saya mungkin tomboy, tapi sebelum saya seperti itu dulunya sangat princess. Pakai pink 24/7, sebelum seorang Om menghancurkan interpretasi warna pink kepada saya.




Saya langsung marathon menonton semuanya dan suka. Bukan hanya karena mengingat kembali masa kecil, tetapi sikapnya justru sangat manusiawi. Saya teringat, banyak orang menyalahkan Barbie karena membuat standar kecantikan yang tidak rasional.

Vlog Barbie ini seolah menampar semua orang yang bilang seperti itu. Apalagi tiap tema vlog yang dibuatnya benar-benar cocok dengan realitas yang terjadi.

Lalu teringat kata teman, "saat vlogger mahluk artifisial jauh lebih niat membuat konten daripada vlogger manusia asli."

Ya benar, manusia jaman sekarang buat vlogger tidak berguna dan hal tidak penting juga dimasukkan ke dalam video. Saya tidak akan lupa dengan Paul Logan yang menginjak-injak kebudayaan Jepang. Video Aokigahara dia mungkin yang memancing semua orang menghujatnya, tapi saya ada melihat video lainnya dan kesal.

Apa demi uang, dia harus menginjak-injak tempat ibadah orang lain? Kalian bisa lihat di tempat ibadah dan keributan apa yang ditimbulkan, sampai diusir oleh pihak keamanan. Saya mungkin bukan orang yang ilmu agamanya baik, tetapi saya tahu jika menginjak-injak keyakinan orang lain dengan membuat keributan di satu rumah ibadah itu ammoral.

Kenapa saya membandingkan keduanya? Karena Barbie itu artifisial, buatan manusia. Namun, isi kontennya jauh lebih mendidik daripada yang dilakukan eh manusia asli.

Bagi saya, menjadi baik dan buruk itu pilihan. Namun, kalau berbuat buruk hanya demi uang, berarti nilaimu memang seharga uang saja. Iya mungkin yang sikapnya buruk lebih kaya dari saya, tapi dia akan terus dikenang sebagai orang buruk bahkan jika sudah mati.

Apa tidak sedih kalau seperti itu?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar