Minggu, 07 Agustus 2016

My Precious Lil Brother

[Disclaimer]
Ini pernah diposting tapi saya masukin ke draf lagi untuk menata blog agar lebih rapi dan ada 'theme' spesifik. Tapi setelah dibaca kembali, rasanya sayang ya untuk dibuang, jadilah republish lagi dengan beberapa perubahan agar lebih rapi.

Edited by me. Source here
"Iih dia nggak sopan banget sih sama kamu. Manggil cuma nama doang padahal kamu kakaknya."

"Kamu gak marah diperlakukan tidak sopan sama adikmu?"

"Harusnya kamu lebih tegas sama adikmu agar dia tahu kalau kamu itu lebih tua darinya dan harus dihormati oleh dia."


Itu segelintir protes dari teman-temanku saat mereka main ke rumahku dan bertemu dengan Adik laki-lakiku. Saat itu aku belum bercerita jika Adikku autis, meskipun sampai detik ini aku menolak dengan tegas adikku dibilang autis dan aku lebih suka menggunakan istilah 'istimewa'.

Ya, Adikku berbeda dari Adik laki-laki kebanyakan orang. Dia istimewa, berbeda dari diriku yang katanya 'normal' meskipun sering merasa gak normal-normal banget kelakukannya oleh orang-orang sekitar. Orang yang baru mengenalku dan menemukan bahwa adikku berbeda, pasti mengira aku menyembunyikan keadaan Adikku itu, padahal aku tidak pernah menyembunyikannya.

Mereka tidak pernah bertanya, jadi kenapa aku harus mengatakannya? Untuk minta dikasihani gitu? Maaf saja, aku tidak merasa kasihan sama diriku sendiri dan tidak butuh rasa simpatik tersebut. Aku kadang muak dengan orang-orang yang dengan mudahnya mengatakan orang lain 'autis' hanya karena dia acuh pada sekitar ataupun terlalu terpaku pada gadget mereka. 

Hei, kamu tahu apa soal autis sehingga seenaknya memberikan julukan itu pada orang yang masih sama-sama normal? 

Kamu pernah mikir kalau perkataan itu didengar oleh seseorang yang memiliki Kakak / Adik / keluarga yang mengalami autis efeknya bagaimana?

Jujur saja, aku menuliskan ini karena Adikku tadi tiba-tiba mengamuk dan hampir membanting handphone milikku (secara pembelian sih milikku, secara frekuensi penggunaan ya milik Adikku) dan juga karena membaca artikel Hipwee Kalian Bilang Ia Robot yang Tak Bisa Merasa. Tapi, Adikku yang Autislah yang Mengajarkanku Arti Mencinta. Setiap kali aku selesai membacanya, aku pasti selalu nangis. 


Tapi hari ini, aku benar-benar menangis sangat lama sampai Adikku yang mengamuk itu terdiam lalu mendatangiku sambil membawa kotak tisu dan bertanya "Kenapa?"



Aku tidak bisa bilang aku menangis karena aku tidak bisa menjadi Kakak yang baik untuknya. Aku juga tidak bisa bilang aku menangis karena saat membaca artikel yang kurang lebih menjabarkan tentangnya, aku merasa ditampar. Jadi aku hanya menggeleng dan tersenyum jahil untuk menyuruhnya makan biar tidak jadi lidi (✿╹◡╹) #dikepruk



Source here
Aku lupa, kalau bukan hanya aku sendiri yang menghadapi seperti ini, masih banyak orang di luar sana yang menghadapi masalah yang sama denganku. Harusnya aku bersyukur, setidaknya Adikku tidak begitu bertingkah seperti anak-anak autis yang lainnya. Atau seperti teman-teman SD-nya dulu yang berani memukul ibunya sendiri hanya karena ibunya mencoba menanyakan apa yang terjadi di sekolah.

Untuk yang bertanya bagaimana perasaanku saat tahu adikku berbeda, awalnya aku sedih. Bohong kalau aku menerimanya begitu saja, tapi aku selalu lupa dengan hal itu karena kami berbagi dunia yang sama. Hanya cara pandang kami berdua yang berbeda dan bukankah berbeda itu yang membuat dunia ini berwarna? Dan dia yang mengajarkan padaku bahwa mencintai adalah termasuk dengan menerima segala kekurangannya.

Adikku waktu balita itu (hampir) sama saja seperti anak-anak lainnya. Tapi dulu dia agak susah untuk tidur, terutama pada hari Senin dan Kamis malam. Belakangan, kami tahu jika dia bisa melihat 'mahluk lain' dan alasannya tidak tidur adalah karena dia diajak main oleh 'teman dunia lain' itu. Alhasil mamaku harus beli kembang 7 rupa dua kali dalam seminggu dan memandikannya ke adikku biar tidak diajak main terus oleh 'mahluk lain'.

Orang tuaku pikir masalah selesai dan karena pekerjaan papaku, kami pindah ke Pontianak saat aku naik kelas 4 SD dan adikku baru lulus playgroup. Namun saat masuk TK, kami menyadari ada yang aneh dengannya. Dia memang bisa berbicara, tapi cenderung berbicara berulang-ulang dan kadang kami tidak meengerti apa maksudnya. Adikku juga sering emosinya naik turun sehingga kotak krayon yang biasanya digunakan untuk menggambar dinding rumah retak dan krayonnya sendiri banyak yang patah.

Soal menggambar di dinding, dulu Mamaku pernah sekali melarang dan berakhir dengan mengamuknya adikku dan melempar barang-barang yang ada di dekatnya sambil menangis histeris. Kalau aku tidak datang membawa buku gambar dan bilang "Gambarin sesuatu," mungkin Mamaku benar-benar terluka. Jadi sejak saat itu, Adikku tidak pernah dilarang untuk menggambar di dinding. Orang tuaku merasa suatu saat nanti Adikku bisa berhenti sendiri.

Orang tuaku tidak menyerah untuk membuat Adikku bisa berbaur dengan orang-orang disekitar, termasuk membawanya ke terapis dan psikolog. Beruntung waktu itu kedua orangtuaku tidak begitu mengkhawatirkan biaya, karena pekerjaan Papaku yang stabil. Kadang aku ikut mengantarkan ke terapis karena Adikku tidak mau pergi kalau aku tidak ikutan. Yah, meskipun kalau kami bersama sering bertengkar tidak jelas atau menyanyi-nyanyi lagu yang tengah diputar di mobil.

Kami berdua punya cara berbeda untuk menunjukkan rasa sayang satu sama lain tapi kami tampak normal seperti Kakak-Adik normal lainnya.

Aku tahu Adikku lebih pintar dari aku, terbukti nilainya dalam Bahasa asing jauh lebih bagus dariku. Bahkan Bahasa Mandarin dia jauh lebih fasih dari pada aku yang ikut les Bahasa Mandarin. Tapi dia belajarnya berbeda dari anak-anak kebanyakan dan harus dengan metode yang berbeda. Adikku pernah tidak naik kelas saat kelas 1 SD, karena sekolahnya tidak mengerti tentang keadaan Adikku.

Kami pindah ke Balikpapan saat aku kenaikan kelas 3 SMP dan Adikku naik kelas 4 SD. Menurutku di Balikpapan itu kota yang cocok untuk anak-anak seperti adikku atau disebut inklusi. Pemerintahnya di sini memperhatikan anak-anak inklusi dan tidak langsung mengirimkan mereka ke SLB. Justru mereka malah menetapkan dari SD sampai SMA negeri tertentu untuk menerima anak-anak inklusi.

Orang tuaku sendiri sejak awal tidak mau memasukkan Adikku ke SLB karena menurut mereka adikku tidak separah itu serta adikku sendiri menolak jika dia harus bergabung di tempat seperti itu.

Hey, jangan pikir anak-anak seperti mereka tidak memiliki pendapat sendiri. 

Saat di Balikpapan, keadaan adikku sudah mulai stabil. Kadang emosinya turun naik sih, tapi tidak sesering dulu. Dan anak autis itu menyukai sesuatu yang spesifik, dan adikku juga punya yaitu mobil. Mau mobil-mobilan maupun mobil asli, adikku sangat suka. Mungkin karena Papaku kerjanya berhubungan dengan mobil kali ya dan sering bawa pulang majalah mobil ataupun brosur mobil, Dia juga sekarang suka baca buku, mungkin karena melihat aku suka baca buku.

Sini aku peluk dulu (づ。◕‿‿◕。)づ #nak

Source here
Terima kasih sudah menjadi adikku. Walaupun aku bukan kakak yang baik bagimu, kuharap kamu tidak menyesal memiliki kakak sepertiku.

Aku tahu, Adikku menjadikanku role mode dalam segala hal. Mulai dari tingkah sampai kesukaan. Dia juga care sama aku, agak over protective saat tahu atau melihatku pulang bareng teman cowok (padahal sebelum pergi aku sudah bilang aku pergi sama teman), pencinta kerapian yang berbanding terbalik dengan Kakaknya, suka makan apapun masakanku meskipun kadang aku merasa keasinan atau hambar dan bilang "Enak kok tapi lain kali garamnya dikitin / banyakin ya." tapi sekarang kemampuan masakku sudah meningkat kok #penting

Apa aku selalu sabar? Munafik kalau aku bilang iya.

Kadang aku juga kesal dengan tingkah Adikku yang menurutku kelewatan dan Mamaku yang malah memarahiku, bukannya Adikku. Kadang aku juga kesal jika Adikku lebih diturutin meminta ini itu dibandingkan aku. Tapi aku sadar, aku harusnya mengalah karena Adikku 'istimewa'.

Serta meskipun sekesal apapun pada Adikku, setiap aku makan sesuatu pasti aku membawakannya untuk Adikku.

Kalau ditanya, apakah aku mau menukar Adikku dengan versi yang normal, aku jawab "TIDAK!"

[P.S: Aku tetap nangis baca tulisan ini padahal sudah setahun berlalu semenjak aku menuliskannya.]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangatlah berarti bagiku