Slider


Beneran mau nangis nulis ini 😭 

Sudah berpikir buruk kalau bakalan revisi proposal lagi, ternyata tidak. Berasa tidak sia-sia nembus gerimis buat ke kampus dan bimbingan cuma lima menit doang. Beneran hepi pokoknya πŸ˜­

Ada problem tidak setelah akhirnya diizinkan untuk melanjutkan ke TA yang sebenarnya?

Maunya kubilang tidak, nyatanya hidup tidak semudah itu. Nyatanya aku dibilang untuk ketemu beliau hari Jumat siang dan harus sudah membawa bab 4 a.k.a pembahasan πŸ˜‚

aku ingin goleran di lantai, soalnya bab 2 dan bab 3 aku saja direvisi abis-abisan. Beri aku penjelasan untuk mengejar bab 4 dalam waktu kurang dari 48 jam?

Bisalah kalau begadang dan gak buka Twitter, elah.


Intinya mau cerita itu aja sih.

Akhirnya Diterima Proposalnya dan Kelanjutannya

Rabu, 25 April 2018


Beneran mau nangis nulis ini 😭 

Sudah berpikir buruk kalau bakalan revisi proposal lagi, ternyata tidak. Berasa tidak sia-sia nembus gerimis buat ke kampus dan bimbingan cuma lima menit doang. Beneran hepi pokoknya πŸ˜­

Ada problem tidak setelah akhirnya diizinkan untuk melanjutkan ke TA yang sebenarnya?

Maunya kubilang tidak, nyatanya hidup tidak semudah itu. Nyatanya aku dibilang untuk ketemu beliau hari Jumat siang dan harus sudah membawa bab 4 a.k.a pembahasan πŸ˜‚

aku ingin goleran di lantai, soalnya bab 2 dan bab 3 aku saja direvisi abis-abisan. Beri aku penjelasan untuk mengejar bab 4 dalam waktu kurang dari 48 jam?

Bisalah kalau begadang dan gak buka Twitter, elah.


Intinya mau cerita itu aja sih.

Kalau postingan yang lalu gak ikhlas kalau harus revisi lagi, kali ini saya ikhlas. Mungkin benar adanya peribahasa padi makin berisi makin merunduk, karena setelah punya refrensi yang banyak pake banget dan english akhirnya sadar kalau revisi itu perlu. Saya memang sejak punya bacaan jadi merasa TA isinya kok aneh ya?

Point yang direvisi:
  1. Hahaha, judulnya ganti lagi dong. Cuma ganti beberapa kata aja sih dan yasudahlah, ikhlaskan saja. 
  2. Maksud, tujuan dan batasan masalahnya diganti dong karena ini semua saling terkait. 
  3. Halo bab dasar teori, direvisi abis-abisan πŸ˜‚ (ini beneran emot nangis ketawa, bukan sarkas. Karena kenyataannya salah urutan aja). 

Cuma jujur, saya punya cerita menyebalkan saat menunggu bimbingan. Jadi, saya 1 jam menunggu di depan ruangan dosbing utama karena beliau menerima orang bimbingan TA. Hanya saja, saya tidak mengerti ini manusia enpatinya ke mana sampai 1 jam! 

Tolong saja, saya kasihan sama adek tingkat yang sampai skip kelas dan kalang kabut karena sudah sore. Mereka mau kerja praktek dan yang dibutuhkan cuma tanda tangan dosbing saya yang kebetulan ketua jurusan. Saya kesal, karena yang bimbingan di dalam tidak punya empati sama sekali. 

Sepertinya saya lebih kesal karena adek tingkat saya hari ini berakhir tidak jadi memberikan proposal ke perusahaan sore ini daripada menunggu 1 jam berdiri di depan pintu ruangan dosbing. Karena saya pernah di posisi mereka dan saya melihat wajah-wajah mereka yang kelelahan karena kurang tidur. 

Ah, waktu di mana tidur 4 jam adalah sebuah kenikmatan yang tidak tergantikan oleh apa pun. 

Saya sekarang berpikiran untuk mencoba konsisten dengan menulis di Evernote dan nantinya bisa di copas dari laptop. Karena saya mau konsisten dan saya ingin memberdayakan semua media yang ada. Karena saya harus menjadi tech savvy untuk kehidupan yang lebih baik #eaaa

Juga, saya memutuskan untuk print out paper yang menjadi refrensi. Saya sayang uang, sayang kertas, tetapi nyatanya saya lebih sayang dengan mata sendiri πŸ˜…

Revisi Lagi

Kamis, 19 April 2018


Kalau postingan yang lalu gak ikhlas kalau harus revisi lagi, kali ini saya ikhlas. Mungkin benar adanya peribahasa padi makin berisi makin merunduk, karena setelah punya refrensi yang banyak pake banget dan english akhirnya sadar kalau revisi itu perlu. Saya memang sejak punya bacaan jadi merasa TA isinya kok aneh ya?

Point yang direvisi:
  1. Hahaha, judulnya ganti lagi dong. Cuma ganti beberapa kata aja sih dan yasudahlah, ikhlaskan saja. 
  2. Maksud, tujuan dan batasan masalahnya diganti dong karena ini semua saling terkait. 
  3. Halo bab dasar teori, direvisi abis-abisan πŸ˜‚ (ini beneran emot nangis ketawa, bukan sarkas. Karena kenyataannya salah urutan aja). 

Cuma jujur, saya punya cerita menyebalkan saat menunggu bimbingan. Jadi, saya 1 jam menunggu di depan ruangan dosbing utama karena beliau menerima orang bimbingan TA. Hanya saja, saya tidak mengerti ini manusia enpatinya ke mana sampai 1 jam! 

Tolong saja, saya kasihan sama adek tingkat yang sampai skip kelas dan kalang kabut karena sudah sore. Mereka mau kerja praktek dan yang dibutuhkan cuma tanda tangan dosbing saya yang kebetulan ketua jurusan. Saya kesal, karena yang bimbingan di dalam tidak punya empati sama sekali. 

Sepertinya saya lebih kesal karena adek tingkat saya hari ini berakhir tidak jadi memberikan proposal ke perusahaan sore ini daripada menunggu 1 jam berdiri di depan pintu ruangan dosbing. Karena saya pernah di posisi mereka dan saya melihat wajah-wajah mereka yang kelelahan karena kurang tidur. 

Ah, waktu di mana tidur 4 jam adalah sebuah kenikmatan yang tidak tergantikan oleh apa pun. 

Saya sekarang berpikiran untuk mencoba konsisten dengan menulis di Evernote dan nantinya bisa di copas dari laptop. Karena saya mau konsisten dan saya ingin memberdayakan semua media yang ada. Karena saya harus menjadi tech savvy untuk kehidupan yang lebih baik #eaaa

Juga, saya memutuskan untuk print out paper yang menjadi refrensi. Saya sayang uang, sayang kertas, tetapi nyatanya saya lebih sayang dengan mata sendiri πŸ˜…

Jadi ... minggu ini akhirnya saya kembali menyentuh skripsi setelah selama ini diabaikan. Bukan diabaikan sih, tepatnya saya kelelahan karena begitu pulang dari Pontianak, Ayah masuk rumah sakit. Menginap di rumah sakit dan saat pulang, punggung saya sakit dan masuk angin πŸ˜‘ *Asian people problem banget*

Hari Rabu lalu (11 April 2018) baru benar-benar menyentuh proposal lagi setelah direvisi besar-besaran oleh dosbing sebelum ke Pontianak. Beliau tidak mau memeriksa Bab 1 dan Bab 2 tugas akhir saya karena proposal saja belum tuntas.

Padahal teman yang lain pakai format persis seperti proposal saya diterima saja, kenapa saya sendiri yang dipersulit oleh dosbing? 😭

Kalau bisa dirinci, hal-hal yang diubah dari proposal:
  1. Judul kemarin padahal tadinya sudah di acc, lalu tiba-tiba dosbing berubah pikiran bilang kalau lebih baik judulnya diganti. Judul jadi makin diperpendek dan berakhir menjadi, "Analisa Penentuan Overpressure Pada Sumur 'ANG-03' Lapangan Sanga-Sanga". Berdoa aja semoga ini tidak direvisi lagi, karena saya sudah kehabisan ide memperpendek judulnya seperti apa lagi 😭
  2. Bab 1 (Pendahuluan) yang bagian Latar Belakang.
    Minta diperinci. Minta ada penjelasan umum kondisi lapangan, permasalahan penelitian, metode penelitian dan penutup. Di proposal, baru bagian penjelasan umum dan penutupnya, jadi minta ditambahkan.
  3. Bab 1 (Pendahuluan) yang bagian Identifikasi Masalah dan Maksud serta Tujuan Penulisan.
    Kalau ada yang disyukuri, cuma diminta dibuang point ke 6, soal perkiraan cadangan. Katanya udah kebanyakan bahasan saya dan setelah menulis bab 3 di TA, saya mengamini ini. Huhuhuhu untung disuruh dibuang 😭
  4. Bab 2 (Dasar Teori), dosbing minta pas penjelasan Logging ditambahkan juga Overpressure yang inti TA aku. Kirain boleh dibuang yang Logging, tahunya tidak boleh karena bahasannya kan terhubung sama itu.
  5. Bab 2 (Dasar Teori) yang bagian Overpressure, minta diubah lagi karena penjelasannya kurang banget dan yang ini memang sudah diprediksi. Waktu itu cari di internet karena saya tidak punya refrensi. Sekarang punya dan tahu harus mencari kemana, tetapi deym susah sekali mencarinya. Sekali ada, bayar pake dollar 😭
Saya juga menyadari, bahwa tema yang saya ambil belum pernah ada yang menuliskan. Perpustakaan kampus tidak bisa diharapkan mencari refrensi untuk TA saya, nasib.

Terus mencari di internet dan universitas sekelas ITB aja, yang menuliskan tema seperti saya cuma 8 orang! Makin aung-aunglah saya saat melihat dari 8 orang itu, 6 di antaranya untuk tugas akhir S2 atau S3. Mana tidak bisa di download, jadi saya mencari teman untuk bisa mengakses perpustakaan digital ITB. Doakan saja semoga dapat 8 judul ini.

Iseng mengetikkan nama penulis refrensi yang saya punya dan begitu keluar hasilnya, sesak napas. Ternyata materi refrensi di laptop saya berharga + 20 juta per April 2018 ini. Mohon maaf, itu duit apa daun ya yang dipakai buat membayar seminarnya? 😭

Intinya postingan ini adalah...,
Mulai mempertanyakan kenapa terperosok di lembah tugas akhir yang biayanya mahal dari sisi refrensi. Apalagi mengalihkan bahasa ke Indonesia juga bingung karena ... kenapa jadi aneh?

Sabar ... Semua akan Segera Berakhir (Mungkin)

Minggu, 15 April 2018


Jadi ... minggu ini akhirnya saya kembali menyentuh skripsi setelah selama ini diabaikan. Bukan diabaikan sih, tepatnya saya kelelahan karena begitu pulang dari Pontianak, Ayah masuk rumah sakit. Menginap di rumah sakit dan saat pulang, punggung saya sakit dan masuk angin πŸ˜‘ *Asian people problem banget*

Hari Rabu lalu (11 April 2018) baru benar-benar menyentuh proposal lagi setelah direvisi besar-besaran oleh dosbing sebelum ke Pontianak. Beliau tidak mau memeriksa Bab 1 dan Bab 2 tugas akhir saya karena proposal saja belum tuntas.

Padahal teman yang lain pakai format persis seperti proposal saya diterima saja, kenapa saya sendiri yang dipersulit oleh dosbing? 😭

Kalau bisa dirinci, hal-hal yang diubah dari proposal:
  1. Judul kemarin padahal tadinya sudah di acc, lalu tiba-tiba dosbing berubah pikiran bilang kalau lebih baik judulnya diganti. Judul jadi makin diperpendek dan berakhir menjadi, "Analisa Penentuan Overpressure Pada Sumur 'ANG-03' Lapangan Sanga-Sanga". Berdoa aja semoga ini tidak direvisi lagi, karena saya sudah kehabisan ide memperpendek judulnya seperti apa lagi 😭
  2. Bab 1 (Pendahuluan) yang bagian Latar Belakang.
    Minta diperinci. Minta ada penjelasan umum kondisi lapangan, permasalahan penelitian, metode penelitian dan penutup. Di proposal, baru bagian penjelasan umum dan penutupnya, jadi minta ditambahkan.
  3. Bab 1 (Pendahuluan) yang bagian Identifikasi Masalah dan Maksud serta Tujuan Penulisan.
    Kalau ada yang disyukuri, cuma diminta dibuang point ke 6, soal perkiraan cadangan. Katanya udah kebanyakan bahasan saya dan setelah menulis bab 3 di TA, saya mengamini ini. Huhuhuhu untung disuruh dibuang 😭
  4. Bab 2 (Dasar Teori), dosbing minta pas penjelasan Logging ditambahkan juga Overpressure yang inti TA aku. Kirain boleh dibuang yang Logging, tahunya tidak boleh karena bahasannya kan terhubung sama itu.
  5. Bab 2 (Dasar Teori) yang bagian Overpressure, minta diubah lagi karena penjelasannya kurang banget dan yang ini memang sudah diprediksi. Waktu itu cari di internet karena saya tidak punya refrensi. Sekarang punya dan tahu harus mencari kemana, tetapi deym susah sekali mencarinya. Sekali ada, bayar pake dollar 😭
Saya juga menyadari, bahwa tema yang saya ambil belum pernah ada yang menuliskan. Perpustakaan kampus tidak bisa diharapkan mencari refrensi untuk TA saya, nasib.

Terus mencari di internet dan universitas sekelas ITB aja, yang menuliskan tema seperti saya cuma 8 orang! Makin aung-aunglah saya saat melihat dari 8 orang itu, 6 di antaranya untuk tugas akhir S2 atau S3. Mana tidak bisa di download, jadi saya mencari teman untuk bisa mengakses perpustakaan digital ITB. Doakan saja semoga dapat 8 judul ini.

Iseng mengetikkan nama penulis refrensi yang saya punya dan begitu keluar hasilnya, sesak napas. Ternyata materi refrensi di laptop saya berharga + 20 juta per April 2018 ini. Mohon maaf, itu duit apa daun ya yang dipakai buat membayar seminarnya? 😭

Intinya postingan ini adalah...,
Mulai mempertanyakan kenapa terperosok di lembah tugas akhir yang biayanya mahal dari sisi refrensi. Apalagi mengalihkan bahasa ke Indonesia juga bingung karena ... kenapa jadi aneh?
Ditulis setelah bisa menata emosi karena mendengar berbagai hal di Pontianak. Postingan ini saya yakin akan panjang (dan memang benar adanya).


Tanggal 29 Maret 2018 akan menjadi hari di mana saya bisa merasa sesak dan ingin menangis saat mendengar sepupu saya mengatakan hal yang dirasakannya. Rasanya sesak dan ingin berkata kasar, tetapi kenyataannya saya memilih mendengarkan. Sesekali saya melirik pintu kamar yang tertutup, memikirkan apakah orang yang berada di dalam sana mendengarkan percakapan ini?

Meski beliau lumpuh serta tidak bisa berbicara karena stroke, juga mengalami kepikunan karena faktor usia, entah kenapa saya yakin percakapan ini didengar olehnya. Saya membelokkan pembicaraan dan akhirnya beristirahat di hotel jam 7 malam.

Malam itu, saat saya mandi, untuk pertama kalinya saya menangis di bawah guyuran shower. Terlalu menyesakkan dan mempertanyakan harus dari siapa untuk dipersalahkan?

***

Saya memanggil beliau dengan sebutan Ama. Beliau menolak dipanggil Nenek, alasannya dia orang Cina dan harus Ama. Awalnya saya terus memanggil Nenek, tetapi beliau terus mengomel dan berakhir saya memanggilnya Ama. Waktu itu, saya masih TK nol besar.

Beberapa tahun kemudian, saya pindah ke Pontianak. Tepatnya saat saya naik kelas 4 SD dan awalnya Ama dan keluarga Apek (Kakaknya Ayah saya), tinggal 1 gang. Lalu tidak lama setelahnya, mereka pindah ke rumah baru. Rumah yang saya datangi selama di Pontianak beberapa waktu yang lalu.

Kenangan saya dengan Ama cukup lucu dan sedih. Lucu adalah, saya sejak dahulu kala tidak bisa bangun pagi. Apalagi jika hari libur  dipastikan bangun jam 10 pagi bahkan sampai sekarang masih seperti itu dan beliau sering datang ke rumah. Sebelumnya, beliau akan menelepon jam 7 pagi, memberi kabar jika akan datang. Hari Minggu pagi saya dipastikan akan dimulai dengan loncat dari kasur jika mendengar Ama akan datang dan membereskan kamar serapi-rapinya.

Ama adalah kedisplinan, itu yang selalu saya ingat darinya.

Kalau datang berkunjung, biasanya beliau tidak sendiri. Akan ada sepupu saya yang bernama Meylie atau Monglie (saya menggunakan nama Cina mereka ya di sini), meski lebih seringnya sepupu saya yang paling kecil. Benar, namanya Monglie.

Saat SMP kelas 8, ada masalah keluarga yang menyebabkan saya berakhir tinggal di rumah Apek. Saya ingat, dua bulan itu saya tinggal di kamar Ama dan tidur bertiga dengan Monglie. Setelahnya, saya kembali dengan Ibu saya dan naik kelas 9, saya pindah ke Balikpapan.

Saya pikir, 10 tahun tidak pernah ke Pontianak pasti akan memberikan banyak perubahan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan diri jika Ama tidak mengenali saya atau pun Akong akan mengabaikan saya saat sampai. Karena saya bukan cucu favorit mereka, wajah dan sikap saya terlalu condong ke Melayu daripada Cina dan saya sudah memaklumi jika menghadapi seperti itu.

Namun, saya tidak pernah menyiapkan diri untuk mendengarkan langsung dari mulut Monglie bahwa dia membenci Ama. Saya benar-benar terdiam saat mendengar hal ini dan dia seolah tahu keterkejutan saya, sehingga menjelaskan semuanya. Pada akhirnya, saya hanya bisa mendengarkan dan saya rasa tidak bisa dan juga tidak pantas menasehatinya.

Hanya bisa bilang kalau dulu dia kesayangan Ama dan yang bikin aku patah hati padahal diselingkuhi pacar aja gak sakit hati karena reaksinya, "masa? Aku dulu disayang banget sama dia? Gak mungkin lei."

Intinya, saya sedih banget selama di Pontianak karena ini.

***

Saya tidak akan menceritakan penyebab sepupu saya jadi membenci Ama, karena posisinya di sini keduanya sama-sama punya salah. Juga, ada reputasi Ama yang harus saya jaga (meski pun, dari sisi mana pun sebenarnya lebih baika aib daripada kebajikan yang ada). Hal yang ingin saya bahas adalah, ternyata semua ada batasnya.

Rasa sayang dan pemakluman itu ada batas waktunya. Saat semua itu sudah melewati batasnya, rasa sayang bisa berubah menjadi benci dan semua kenangan indah itu tidak ada harganya lagi. Lalu saya mellow karena yang tersayang saja bisa berbalik menjadi pembenci nomor satu, lantas bagaimana jika yang merasa disisihkan?

Pelajaran yang saya bisa dapatkan dari cerita Monglie dan Ama adalah, jangan membeda-bedakan rasa sayang kepada anggota keluarga. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan dan tidak ada yang menjamin orang yang disayang banget akan tetap menyayangi kita. Meski tetap saja, kalau diingat kembali, rasanya menyesakkan.

T__T
Teruntuk kamu di masa depan (jika memutuskan membaca ulang entri blog ini), saat berkeluarga nanti, jangan membedakan rasa sayang kepada anggota keluarga ya. Menjadi adil memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa diusahakan.

Semua Ada Batasnya

Sabtu, 14 April 2018

Ditulis setelah bisa menata emosi karena mendengar berbagai hal di Pontianak. Postingan ini saya yakin akan panjang (dan memang benar adanya).


Tanggal 29 Maret 2018 akan menjadi hari di mana saya bisa merasa sesak dan ingin menangis saat mendengar sepupu saya mengatakan hal yang dirasakannya. Rasanya sesak dan ingin berkata kasar, tetapi kenyataannya saya memilih mendengarkan. Sesekali saya melirik pintu kamar yang tertutup, memikirkan apakah orang yang berada di dalam sana mendengarkan percakapan ini?

Meski beliau lumpuh serta tidak bisa berbicara karena stroke, juga mengalami kepikunan karena faktor usia, entah kenapa saya yakin percakapan ini didengar olehnya. Saya membelokkan pembicaraan dan akhirnya beristirahat di hotel jam 7 malam.

Malam itu, saat saya mandi, untuk pertama kalinya saya menangis di bawah guyuran shower. Terlalu menyesakkan dan mempertanyakan harus dari siapa untuk dipersalahkan?

***

Saya memanggil beliau dengan sebutan Ama. Beliau menolak dipanggil Nenek, alasannya dia orang Cina dan harus Ama. Awalnya saya terus memanggil Nenek, tetapi beliau terus mengomel dan berakhir saya memanggilnya Ama. Waktu itu, saya masih TK nol besar.

Beberapa tahun kemudian, saya pindah ke Pontianak. Tepatnya saat saya naik kelas 4 SD dan awalnya Ama dan keluarga Apek (Kakaknya Ayah saya), tinggal 1 gang. Lalu tidak lama setelahnya, mereka pindah ke rumah baru. Rumah yang saya datangi selama di Pontianak beberapa waktu yang lalu.

Kenangan saya dengan Ama cukup lucu dan sedih. Lucu adalah, saya sejak dahulu kala tidak bisa bangun pagi. Apalagi jika hari libur  dipastikan bangun jam 10 pagi bahkan sampai sekarang masih seperti itu dan beliau sering datang ke rumah. Sebelumnya, beliau akan menelepon jam 7 pagi, memberi kabar jika akan datang. Hari Minggu pagi saya dipastikan akan dimulai dengan loncat dari kasur jika mendengar Ama akan datang dan membereskan kamar serapi-rapinya.

Ama adalah kedisplinan, itu yang selalu saya ingat darinya.

Kalau datang berkunjung, biasanya beliau tidak sendiri. Akan ada sepupu saya yang bernama Meylie atau Monglie (saya menggunakan nama Cina mereka ya di sini), meski lebih seringnya sepupu saya yang paling kecil. Benar, namanya Monglie.

Saat SMP kelas 8, ada masalah keluarga yang menyebabkan saya berakhir tinggal di rumah Apek. Saya ingat, dua bulan itu saya tinggal di kamar Ama dan tidur bertiga dengan Monglie. Setelahnya, saya kembali dengan Ibu saya dan naik kelas 9, saya pindah ke Balikpapan.

Saya pikir, 10 tahun tidak pernah ke Pontianak pasti akan memberikan banyak perubahan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan diri jika Ama tidak mengenali saya atau pun Akong akan mengabaikan saya saat sampai. Karena saya bukan cucu favorit mereka, wajah dan sikap saya terlalu condong ke Melayu daripada Cina dan saya sudah memaklumi jika menghadapi seperti itu.

Namun, saya tidak pernah menyiapkan diri untuk mendengarkan langsung dari mulut Monglie bahwa dia membenci Ama. Saya benar-benar terdiam saat mendengar hal ini dan dia seolah tahu keterkejutan saya, sehingga menjelaskan semuanya. Pada akhirnya, saya hanya bisa mendengarkan dan saya rasa tidak bisa dan juga tidak pantas menasehatinya.

Hanya bisa bilang kalau dulu dia kesayangan Ama dan yang bikin aku patah hati padahal diselingkuhi pacar aja gak sakit hati karena reaksinya, "masa? Aku dulu disayang banget sama dia? Gak mungkin lei."

Intinya, saya sedih banget selama di Pontianak karena ini.

***

Saya tidak akan menceritakan penyebab sepupu saya jadi membenci Ama, karena posisinya di sini keduanya sama-sama punya salah. Juga, ada reputasi Ama yang harus saya jaga (meski pun, dari sisi mana pun sebenarnya lebih baika aib daripada kebajikan yang ada). Hal yang ingin saya bahas adalah, ternyata semua ada batasnya.

Rasa sayang dan pemakluman itu ada batas waktunya. Saat semua itu sudah melewati batasnya, rasa sayang bisa berubah menjadi benci dan semua kenangan indah itu tidak ada harganya lagi. Lalu saya mellow karena yang tersayang saja bisa berbalik menjadi pembenci nomor satu, lantas bagaimana jika yang merasa disisihkan?

Pelajaran yang saya bisa dapatkan dari cerita Monglie dan Ama adalah, jangan membeda-bedakan rasa sayang kepada anggota keluarga. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan dan tidak ada yang menjamin orang yang disayang banget akan tetap menyayangi kita. Meski tetap saja, kalau diingat kembali, rasanya menyesakkan.

T__T
Teruntuk kamu di masa depan (jika memutuskan membaca ulang entri blog ini), saat berkeluarga nanti, jangan membedakan rasa sayang kepada anggota keluarga ya. Menjadi adil memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa diusahakan.
Sebenarnya, kenapa juga sih harus mikirin kata orang lain?


Postingan ini masih sambungan yang sebelumnya. Hanya saja, kalau yang waktu itu membahas tentang fans salah satu boyband Korea, kali ini saya ingin membahas satu oknum. Tulisan ini sudah mengalami perombakan yang cukup signifikan karena setelah saya baca kembali, terlalu objektif.

(Baca juga Kritikan dan Kebencian yang Harus Diterima dalam Hidup)

Semoga yang kali ini tidak terlalu objektif.

***

Beberapa waktu yang lalu, Twitter sempat heboh karena salah satu fans penulis fanfic rasa lokal (sebenarnya saya tidak mau mengkategorikan sebagai fanfic, tetapi dia sendiri yang membuat seperti itu) membawa pasangan fanfic lokalan itu ke salah satu idol. Sontak saja, fans internasional meradang dan fans lokal menghujat penulisnya.

Saya tidak mau membahas detail, karena ujungnya menyalahkan satu pihak. Jadi sekitar dua minggu yang lalu, penulis ini kembali ke media sosial (Twitter) dan membawa thread tentang yang dirasakannya. Jujur, saya berusaha mengabaikannya sampai membaca salah satu tweet yang seolah bilang semua orang tidak boleh "benci" dengannya. Hanya karena ada orang anonymous mengirim di base Twitter soal penulis "bermasalah" kembali berkarya.

Oh wow, siapa kamu sampai memaksa orang untuk tidak membenci?

***

Hal yang ingin saya sampaikan di postingan kali ini adalah, jangan memaksa orang untuk mengikuti keinginanmu. Rasa benci manusia itu tidak bisa dicegah dan seringnya, tidak ada alasan yang mengikutinya. Memang menyakitkan, tetapi manusia itu kompleks dan kamu tidak bisa mengatur selera semua orang.

Padahal, kalau kita merasa dibenci oleh golongan tertentu, bukankah ada cara untuk mengabaikannya? Fokus dengan orang yang menyukai kita misalnya, karena saya yakin jumlah orang yang membenci tidaklah sebanding dengan orang yang mencintai. Kadang, saya sedih melihat orang lain yang terlalu fokus untuk peduli kata orang yang membencinya daripada orang yang nyatanya mencintainya. Apa orang-orang baik ini tidaklah berharga dihidupnya?
Hanya saja, manusia memang sekompleks itu. Teorinya memang harusnya diabaikan, tetapi saat benar-benar terjadi pada kehidupannya, pikirannya memberikan reaksi di luar teori yang telah ditetapkan. Mungkin itu juga yang dialaminya. [Teman berinisial Haru
Intinya postingan ini, abaikan orang yang membencimu dan jangan kepedean tulisan ujaran kebencian ditunjukkan untukmu. 

Karena Benci Kadang Tidak Butuh Alasan

Kamis, 12 April 2018

Sebenarnya, kenapa juga sih harus mikirin kata orang lain?


Postingan ini masih sambungan yang sebelumnya. Hanya saja, kalau yang waktu itu membahas tentang fans salah satu boyband Korea, kali ini saya ingin membahas satu oknum. Tulisan ini sudah mengalami perombakan yang cukup signifikan karena setelah saya baca kembali, terlalu objektif.

(Baca juga Kritikan dan Kebencian yang Harus Diterima dalam Hidup)

Semoga yang kali ini tidak terlalu objektif.

***

Beberapa waktu yang lalu, Twitter sempat heboh karena salah satu fans penulis fanfic rasa lokal (sebenarnya saya tidak mau mengkategorikan sebagai fanfic, tetapi dia sendiri yang membuat seperti itu) membawa pasangan fanfic lokalan itu ke salah satu idol. Sontak saja, fans internasional meradang dan fans lokal menghujat penulisnya.

Saya tidak mau membahas detail, karena ujungnya menyalahkan satu pihak. Jadi sekitar dua minggu yang lalu, penulis ini kembali ke media sosial (Twitter) dan membawa thread tentang yang dirasakannya. Jujur, saya berusaha mengabaikannya sampai membaca salah satu tweet yang seolah bilang semua orang tidak boleh "benci" dengannya. Hanya karena ada orang anonymous mengirim di base Twitter soal penulis "bermasalah" kembali berkarya.

Oh wow, siapa kamu sampai memaksa orang untuk tidak membenci?

***

Hal yang ingin saya sampaikan di postingan kali ini adalah, jangan memaksa orang untuk mengikuti keinginanmu. Rasa benci manusia itu tidak bisa dicegah dan seringnya, tidak ada alasan yang mengikutinya. Memang menyakitkan, tetapi manusia itu kompleks dan kamu tidak bisa mengatur selera semua orang.

Padahal, kalau kita merasa dibenci oleh golongan tertentu, bukankah ada cara untuk mengabaikannya? Fokus dengan orang yang menyukai kita misalnya, karena saya yakin jumlah orang yang membenci tidaklah sebanding dengan orang yang mencintai. Kadang, saya sedih melihat orang lain yang terlalu fokus untuk peduli kata orang yang membencinya daripada orang yang nyatanya mencintainya. Apa orang-orang baik ini tidaklah berharga dihidupnya?
Hanya saja, manusia memang sekompleks itu. Teorinya memang harusnya diabaikan, tetapi saat benar-benar terjadi pada kehidupannya, pikirannya memberikan reaksi di luar teori yang telah ditetapkan. Mungkin itu juga yang dialaminya. [Teman berinisial Haru
Intinya postingan ini, abaikan orang yang membencimu dan jangan kepedean tulisan ujaran kebencian ditunjukkan untukmu. 
Jadi selama di Pontianak, saya menginap di Hotel Borneo dan lebih baik review saja di sini. Btw, saya kaget loh reviewnya hotel ini pada jelek πŸ˜‚


Jadi sebenarnya saya tidak tahu kalau hotel ini eksis. Maklum saja, saya sudah 10 tahun tidak ke Pontianak. Karena kata Apek (Kakaknya Ayah) temannya Ayah nanti reunian di Sky Bar, lebih baik menginap di sini saja.

Hotel Borneo ini terletak di pusat kota dan cukup nyaman untuk ditinggali selama 3 hari berada di Pontianak. Staffnya memang tidak banyak menyapa dan jujur saya lebih suka seperti itu. Bukannya apa, saya tipikal yang tidak suka beramal-tamah pada orang asing.

Fasilitas kamar menurutku oke. Mereka juga selalu rapiin setiap hari. Handuk, gelas dan segala macamnya selalu diganti. Fasilitas showernya air dingin dan air panasnya ada. Oh iya, Ayah saya selalu minum teh tengah malam dan sore hari,  semua itu diganti (mulai dari gelas, teh celup baru sampai air mineral NestlΓ©).

Kondisi hotel cukup ramai, mengingat saat saya berkunjung ke Pontianak (29 Maret) adalah saat sembahyang kubur. Jadi tidak heran kalau isi yang menginap kebanyakan orang Cina. Pada ngomong bahasa Khek dan saya tidak bisa menerjemahkan πŸ˜‚

Setiap kamar mendapatkan fasilitas sarapan untuk 2 orang (dengan memperlihatkan kartu kamar) dan untuk rasa ya so so gitulah. Tidak yang enak pake banget, tapi bukan berarti tidak enak. Rasa biasa saja gitu.

Sebenarnya saat diserahkan kunci kamar beserta kwitansi, ada kode untuk wifi. Hanya saja ini tidak ada gunanya, karena bisa dipakai buka google saja tidak πŸ˜ͺ

Di dekat hotel ada Alfamart. Jadi kalau ada kebutuhan mendadak yang ingin dibeli, bisalah jalan kaki dari hotel. Tidak sampai 100 meter dari hotel.

Kalau yang ingin keliling kota, tapi malas nyewa gocar bisa mencari supir di depan hotel. Soalnya banyak supir mobil yang nongkrong di situ. Untuk tarifnya, saya kurang tahu karena yang bayarin adalah Apek.

Kesimpulan saya, menginap di sini cukup menyenangkan. Fasilitasnya oke (kecuali wifi dan sarapannya yang rasanya tidak wah banget) dan letaknya di pusat kota. Mungkin kalau ke Pontianak lagi, saya mau menginap di sini lagi.


Sumber foto:
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1492047&page=95#/topics/1492047

Hotel Borneo Pontianak

Sabtu, 07 April 2018

Jadi selama di Pontianak, saya menginap di Hotel Borneo dan lebih baik review saja di sini. Btw, saya kaget loh reviewnya hotel ini pada jelek πŸ˜‚


Jadi sebenarnya saya tidak tahu kalau hotel ini eksis. Maklum saja, saya sudah 10 tahun tidak ke Pontianak. Karena kata Apek (Kakaknya Ayah) temannya Ayah nanti reunian di Sky Bar, lebih baik menginap di sini saja.

Hotel Borneo ini terletak di pusat kota dan cukup nyaman untuk ditinggali selama 3 hari berada di Pontianak. Staffnya memang tidak banyak menyapa dan jujur saya lebih suka seperti itu. Bukannya apa, saya tipikal yang tidak suka beramal-tamah pada orang asing.

Fasilitas kamar menurutku oke. Mereka juga selalu rapiin setiap hari. Handuk, gelas dan segala macamnya selalu diganti. Fasilitas showernya air dingin dan air panasnya ada. Oh iya, Ayah saya selalu minum teh tengah malam dan sore hari,  semua itu diganti (mulai dari gelas, teh celup baru sampai air mineral NestlΓ©).

Kondisi hotel cukup ramai, mengingat saat saya berkunjung ke Pontianak (29 Maret) adalah saat sembahyang kubur. Jadi tidak heran kalau isi yang menginap kebanyakan orang Cina. Pada ngomong bahasa Khek dan saya tidak bisa menerjemahkan πŸ˜‚

Setiap kamar mendapatkan fasilitas sarapan untuk 2 orang (dengan memperlihatkan kartu kamar) dan untuk rasa ya so so gitulah. Tidak yang enak pake banget, tapi bukan berarti tidak enak. Rasa biasa saja gitu.

Sebenarnya saat diserahkan kunci kamar beserta kwitansi, ada kode untuk wifi. Hanya saja ini tidak ada gunanya, karena bisa dipakai buka google saja tidak πŸ˜ͺ

Di dekat hotel ada Alfamart. Jadi kalau ada kebutuhan mendadak yang ingin dibeli, bisalah jalan kaki dari hotel. Tidak sampai 100 meter dari hotel.

Kalau yang ingin keliling kota, tapi malas nyewa gocar bisa mencari supir di depan hotel. Soalnya banyak supir mobil yang nongkrong di situ. Untuk tarifnya, saya kurang tahu karena yang bayarin adalah Apek.

Kesimpulan saya, menginap di sini cukup menyenangkan. Fasilitasnya oke (kecuali wifi dan sarapannya yang rasanya tidak wah banget) dan letaknya di pusat kota. Mungkin kalau ke Pontianak lagi, saya mau menginap di sini lagi.


Sumber foto:
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1492047&page=95#/topics/1492047

Jadi ada terlalu banyak yang terjadi dan saya berakhir mengabaikan lagi blog ini. Memang sepertinya harus membuat jadwal untuk menulis secara konsisten. Jadi kali ini mau cerita apa saja yang terjadi selama tidak menulis kemari.

⭐ Kembali Bertemankan Revisi
Sejujurnya saya capai. Padahal sudah revisi persis seperti yang dosbing inginkan, tetapi beliau malah bilang ganti judul kembali + kali ini maksud dan tujuan proposal TA yang direvisi. Juga meminta bab 2 proposal yang tentang overpressure juga ditambahkan. Mental saya kembali jatuh sejatuh-jatuhnya.

⭐ Pergi ke Pontianak 
Saya sebenarnya setengah ikhlas pergi kemari dan begitulah, terlalu banyak hal yang membuat emosi saya di titik terendah. Dua hari sebelum pergi, saya sampai di level berbicara sendiri karena kesal dan menangis, lalu tertawa sendiri.

Saya rasa, saya membutuhkan pertolongan dari luar.

Tidak ada dokumentasi pribadi selama di sana, karena tujuan kemari adalah untuk mewujudkan keinginan Ayah. Saya selalu menangis jika teringat beliau bilang kalau ini adalah keinginan terakhirnya. 😭

(Pada akhirnya, saya menuliskan Review Hotel Borneo dan Hal yang Membuat Saya Sedih)

⭐ Ayah Masuk Rumah Sakit 
Sebenarnya, hal ini sudah bisa diprediksi setelah pulang dari Pontianak. Saya bahkan sudah memprediksi HB Ayah di bawah 7,5 dan memang benar, kenyataannya HB berada pada nilai 7,4.

Sekarang saya sedang di rumah sakit, menemani beliau. Capai sebenarnya, tapi kalau bukan saya yang menjaga, siapa lagi?

⭐ Manusia yang Terlalu Mendramatisir
Begini, saya tahu dia terkena skandal karena fansnya yang tidak bisa membedakan realitas dengan cerita. Hanya saja, saya benar-benar kesal dengan dia yang sok kepedean. Hanya karena tulisan anon, jadi merasa dia yang diserang.

Entah saya yang terlalu muak dengan sikapnya yang bisa dikategorikan sebagai caper atau memang toleransi kepada manusia yang terlalu menggunakan perasaan dalam menghadapi masalah cenderung rendah. Hanya saja yang jelas, saya benar-benar lelah dengan sikapnya.

Kalau kamu tidak bisa mendefinisikan tujuan menulis, tidak bisa mengatur dirimu untul tidak bertemu dengan omongan jahat, jangan sok drama. Saya yakin kamu punya akal, tahu bagaimana cara menyelesaikannya bukan?

Kalau kamu memang hanya peduli sama yang benci dirimu, saya kasihan sama yang mencintai tulisanmu tanpa syarat. Mereka yang jumlahnya lebih banyak nyatanya kalah mendapatkan atensi dari segelintir manusia yang tidak menyukaimu.

Benar, saya kesal karena kamu tidak menghargai orang yang mencintai tulisanmu dan memilih untuk membuat drama dengan mengangkat sikap orang yang membencimu. Kasihan ya kamu, tidak bisa memilih bagian mana untuk membuatmu bahagia.

(Berakhir mendedikasikan postingan ini untuk ybs)

***

Sepertinya saya akan mulai menyusun jadwal untuk menuliskan apa yang terjadi pada hidup ini. Tujuannya sederhana, hanya untuk dokumentasi kehidupan. Terserah dianggap narsistik, tetapi saya ingin ada dokumentasi kehidupan selain di Daylio.

Tentang Hidup Belakangan Ini

Jumat, 06 April 2018


Jadi ada terlalu banyak yang terjadi dan saya berakhir mengabaikan lagi blog ini. Memang sepertinya harus membuat jadwal untuk menulis secara konsisten. Jadi kali ini mau cerita apa saja yang terjadi selama tidak menulis kemari.

⭐ Kembali Bertemankan Revisi
Sejujurnya saya capai. Padahal sudah revisi persis seperti yang dosbing inginkan, tetapi beliau malah bilang ganti judul kembali + kali ini maksud dan tujuan proposal TA yang direvisi. Juga meminta bab 2 proposal yang tentang overpressure juga ditambahkan. Mental saya kembali jatuh sejatuh-jatuhnya.

⭐ Pergi ke Pontianak 
Saya sebenarnya setengah ikhlas pergi kemari dan begitulah, terlalu banyak hal yang membuat emosi saya di titik terendah. Dua hari sebelum pergi, saya sampai di level berbicara sendiri karena kesal dan menangis, lalu tertawa sendiri.

Saya rasa, saya membutuhkan pertolongan dari luar.

Tidak ada dokumentasi pribadi selama di sana, karena tujuan kemari adalah untuk mewujudkan keinginan Ayah. Saya selalu menangis jika teringat beliau bilang kalau ini adalah keinginan terakhirnya. 😭

(Pada akhirnya, saya menuliskan Review Hotel Borneo dan Hal yang Membuat Saya Sedih)

⭐ Ayah Masuk Rumah Sakit 
Sebenarnya, hal ini sudah bisa diprediksi setelah pulang dari Pontianak. Saya bahkan sudah memprediksi HB Ayah di bawah 7,5 dan memang benar, kenyataannya HB berada pada nilai 7,4.

Sekarang saya sedang di rumah sakit, menemani beliau. Capai sebenarnya, tapi kalau bukan saya yang menjaga, siapa lagi?

⭐ Manusia yang Terlalu Mendramatisir
Begini, saya tahu dia terkena skandal karena fansnya yang tidak bisa membedakan realitas dengan cerita. Hanya saja, saya benar-benar kesal dengan dia yang sok kepedean. Hanya karena tulisan anon, jadi merasa dia yang diserang.

Entah saya yang terlalu muak dengan sikapnya yang bisa dikategorikan sebagai caper atau memang toleransi kepada manusia yang terlalu menggunakan perasaan dalam menghadapi masalah cenderung rendah. Hanya saja yang jelas, saya benar-benar lelah dengan sikapnya.

Kalau kamu tidak bisa mendefinisikan tujuan menulis, tidak bisa mengatur dirimu untul tidak bertemu dengan omongan jahat, jangan sok drama. Saya yakin kamu punya akal, tahu bagaimana cara menyelesaikannya bukan?

Kalau kamu memang hanya peduli sama yang benci dirimu, saya kasihan sama yang mencintai tulisanmu tanpa syarat. Mereka yang jumlahnya lebih banyak nyatanya kalah mendapatkan atensi dari segelintir manusia yang tidak menyukaimu.

Benar, saya kesal karena kamu tidak menghargai orang yang mencintai tulisanmu dan memilih untuk membuat drama dengan mengangkat sikap orang yang membencimu. Kasihan ya kamu, tidak bisa memilih bagian mana untuk membuatmu bahagia.

(Berakhir mendedikasikan postingan ini untuk ybs)

***

Sepertinya saya akan mulai menyusun jadwal untuk menuliskan apa yang terjadi pada hidup ini. Tujuannya sederhana, hanya untuk dokumentasi kehidupan. Terserah dianggap narsistik, tetapi saya ingin ada dokumentasi kehidupan selain di Daylio.
Ditulis karena banyak orang mengatakan Idol Korea itu adalah Iluminati dan sengaja untuk melemahkan moral. Padahal kalau dipikirkan kembali, yang ngomong ini cemen banget ya mentalnya sampai tidak bisa mengontrol dirinya.


Saya sebal banyak orang (terutama ustad yang ilmunya setengah dan orang yang menerima perkataan ini tanpa dipikir pakai otaknya) selalu bilang kalau suka Korea itu sama saja kafir. Masuk akal?

Pertama, yang ngefans pasti sudah tahu kalau agamanya berbeda. Padahal jelas kami yang menyukai Idol itu karena kemampuan dan lagunya. Ya bohong sih kalau tidak tertarik karena visualnya, karena manusia ya mahluk visual.

Kedua, kenapa selalu menekankan Idol Korea? Kenapa tidak artis Barat yang jelas kelihatan ada unsur pemujaan setannya? Atau kenapa tidak kritik penyanyi dangdut Indonesia yang kebanyakan mengumbar aurat?

Ketiga, Idol Korea tidak ada hubungannya dengan moralmu. Kalau ada yang merasa hidupnya kacau karena kebanyakan fangirl, itu salah orangnya. Idolamu tidak pernah memaksa kamu untuk menjadi penggemarnya dan Idolamu tidak bertanggung jawab atas masa depanmu.

*begini aja udah emosi*

Baca deh di bawah ini dan mari kita renungkan bersama. Apakah pantas menegur sampai sebegininya?



Miris baca thread ini, apalagi yang melakukannya adalah oknum guru. Padahal, apa yang didapatkan setelah mengatakan itu? Superior karena merasa benar?

Saya justru merasa yang ada orang-orang penyuka KPOP akan lebih batu untuk terus menyukainya. Padahal, suka seperti ini hanyalah fase dalam kehidupan. Suatu saat nanti akan bosan sendiri dan bakalan berhenti.

Dampak positif dan negatif saat menyukai sesuatu adalah sepenuhnya pilihan kita, Karena yang menentukan kegiatan adalah kita sendiri dan yang tahu efek sampingnya adalah kita sendiri.

Padahal menurut saya, menyukai KPOP itu justru menjauhkan diri dari efek negatif. Efek negatif yang biasa ada pada pergaulan remaja masa kini yang mengerikan. Efek negatif karena stres dengan kehidupan dan merasa semangat karena menyukai KPOP.

Saya sejujurnya heran dengan Indonesia. Kenapa suka sekali ikut campur dengan urusan orang lain? Apa merasa ilmunya sudah 'banyak' sehingga menganggap dirinya 'Tuhan'? Apa hidupnya kurang banyak pekerjaan sehingga usil dengan kehidupan orang lain?

Pantas saja banyak orang yang berharap pindah kewarganegaraan. Kalau manusianya banyak berpikiran sempit seperti ini, apalagi sampai menciderai mental anak hanya karena kesukaanya. Padahal tahu, anak jaman sekarang tidak bisa dikasarin atau makin memberontak.
Pada akhirnya, ini kembali kepada diri kita sendiri. Saat menyukai sesuatu, kita akan dihadapkan dengan semua resiko yang ada. Kita punya pilihan, bertahan atau berhenti karena resiko itu. 

KPOP Bukan Hal Negatif

Kamis, 08 Maret 2018

Ditulis karena banyak orang mengatakan Idol Korea itu adalah Iluminati dan sengaja untuk melemahkan moral. Padahal kalau dipikirkan kembali, yang ngomong ini cemen banget ya mentalnya sampai tidak bisa mengontrol dirinya.


Saya sebal banyak orang (terutama ustad yang ilmunya setengah dan orang yang menerima perkataan ini tanpa dipikir pakai otaknya) selalu bilang kalau suka Korea itu sama saja kafir. Masuk akal?

Pertama, yang ngefans pasti sudah tahu kalau agamanya berbeda. Padahal jelas kami yang menyukai Idol itu karena kemampuan dan lagunya. Ya bohong sih kalau tidak tertarik karena visualnya, karena manusia ya mahluk visual.

Kedua, kenapa selalu menekankan Idol Korea? Kenapa tidak artis Barat yang jelas kelihatan ada unsur pemujaan setannya? Atau kenapa tidak kritik penyanyi dangdut Indonesia yang kebanyakan mengumbar aurat?

Ketiga, Idol Korea tidak ada hubungannya dengan moralmu. Kalau ada yang merasa hidupnya kacau karena kebanyakan fangirl, itu salah orangnya. Idolamu tidak pernah memaksa kamu untuk menjadi penggemarnya dan Idolamu tidak bertanggung jawab atas masa depanmu.

*begini aja udah emosi*

Baca deh di bawah ini dan mari kita renungkan bersama. Apakah pantas menegur sampai sebegininya?



Miris baca thread ini, apalagi yang melakukannya adalah oknum guru. Padahal, apa yang didapatkan setelah mengatakan itu? Superior karena merasa benar?

Saya justru merasa yang ada orang-orang penyuka KPOP akan lebih batu untuk terus menyukainya. Padahal, suka seperti ini hanyalah fase dalam kehidupan. Suatu saat nanti akan bosan sendiri dan bakalan berhenti.

Dampak positif dan negatif saat menyukai sesuatu adalah sepenuhnya pilihan kita, Karena yang menentukan kegiatan adalah kita sendiri dan yang tahu efek sampingnya adalah kita sendiri.

Padahal menurut saya, menyukai KPOP itu justru menjauhkan diri dari efek negatif. Efek negatif yang biasa ada pada pergaulan remaja masa kini yang mengerikan. Efek negatif karena stres dengan kehidupan dan merasa semangat karena menyukai KPOP.

Saya sejujurnya heran dengan Indonesia. Kenapa suka sekali ikut campur dengan urusan orang lain? Apa merasa ilmunya sudah 'banyak' sehingga menganggap dirinya 'Tuhan'? Apa hidupnya kurang banyak pekerjaan sehingga usil dengan kehidupan orang lain?

Pantas saja banyak orang yang berharap pindah kewarganegaraan. Kalau manusianya banyak berpikiran sempit seperti ini, apalagi sampai menciderai mental anak hanya karena kesukaanya. Padahal tahu, anak jaman sekarang tidak bisa dikasarin atau makin memberontak.
Pada akhirnya, ini kembali kepada diri kita sendiri. Saat menyukai sesuatu, kita akan dihadapkan dengan semua resiko yang ada. Kita punya pilihan, bertahan atau berhenti karena resiko itu. 
Sepertinya kebiasaan lama saya yang suka menulis judul panjang kembali lagi.


Karena iseng ikut test MBTI di www.16personalities.com dan hasilnya tetap sama seperti tahun 2015, INTJ. Lalu berniat membuat analisisnya dan sudahlah, anggap saja saya ingin melatih diri untuk konsisten menulis.

Hanya saja, MBTI itu apa sih? Terus kenapa saya sampai tahu kalau kepribadian saja INTJ?
Myers-Birggs Type Indicator (MBTI) adalah psikotes yang dirancang untuk mengukur prefensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. MBTI dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers sejak tahun 1940. Psikotes ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan tipe kepribadian seseorang
(sumber wikipedia)
Saya tahu INTJ karena saya ikut tes di www.16personalities.com dan seperti nama webstienya, ada 16 kepribadian di dunia ini. 16 kepribadian ini dibagi menjadi 4 kelompok besar yang bisa dilihat di bawah ini ya.

Hasil tes ini tidak bisa dibilang benar-benar akurat sih, tapi kalau untuk tahu garis besar kepribadian kita ya cukup benar. Serta alasan saya menjelaskan semua ini, karena jujur kadang capek karena hal tidak berguna dianalisis benar oleh saya.

Terutama, soal perasaan. Saya meski suka menulis cerita cinta, saya sendiri tidak merasakan urgensi harus jatuh cinta. Apalagi cowok yang saya temui selama ini tidak ada yang bisa mengimbangi pola pikir saya. Kebanyakan terlihat bodoh saat saya mengajak mengobrol dan sudahlah, diajak mengobrol saya saja tidak bisa menjawab, apalagi nanti jika dibawa ke jenjang serius bukan?

Jujur saya introvert. Benar-benar orang yang tidak bisa betah dikeramaian. Saya benar-benar lelah kalau keluar rumah, padahal hanya pergi ke sekitar rumah. Bisa dibayangkan kalau saya bertemu banyak orang asing? Saya langsung terkapar di rumah.
People with the INTJ personality type are imaginative yet decisive, ambitious yet private, amazingly curious, but they do not squander their energy.
Meski saya pengguna logika, sebenarnya imajinasi saya pun masih jalan. Cuma ya itu, imajinasi saya tidak sampai level halu. Karena bagaimana ya, membayangkan sesuatu saja, sama saya harus dibuat semirip realitas.

Makanya saya penentang paling depan pada fangirl yang menganggap oppa is mine. Tidak realistis di akalnya saya.

(baca juga Idola Bukan Milik Fans)

Saya juga sadar kalau diri ini tipe ambisius. Semua harus sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan dan kalau gagal, setidaknya ada cara lain yang sudah dipersiapkan untuk mencapai tujuan. Meski begitu, saya juga agak tertutup.

Kalau dibilang tertutup banget sih, tidak. Buktinya masih menulis di sini, tapi memang jarang banget cerita masalah ke media sosial. Palingan cerita dengan 1 teman, lalu ditanya kesimpulannya apa? Makanya saya lebih betah cerita dengannya, karena apa yang saya misuh-misuhin akan mendapatkan konklusinya.

Kalau penasaran, saya rasa semua orang pasti tipe penasaran. Hanya saja, saya penasarannya cenderung ke arah yang dirasa penting saja. Bukan penasaran ke gosip murah, karena ya menurut saya dari kejadian itu dapat hikmah positif apa?

Saya mau penasaran pada sesuatu bukan hanya karena memuaskan rasa penasaran, tetapi juga ada nilai yang bisa dijadikan pembelajaran. Iya, ribet banget saya hidup. Padahal harusnya ya enjoy ajalah dengan segala kerecehan yang ada.
While they will never be comfortable with a truly public display of emotions, INTJ can learn to use them, to channel them alongside their logic to help them achieve their goals.
Meski pun seringnya saya dibilang tidak punya perasaan dan tidak punya hati oleh teman-teman kampus, kenyataanya saya mudah iri. Iri yang seiri-irinya, tapi setelah itu dianalisi. Setelah itu, energi ini akan saya gunakan untuk memacu diri mencapai target.

Memang terdengar aneh, rasa iri, dengki dan teman-temannya itu bisa diubah menjadi cara untuk memacu diri. Hanya saja kan dasarnya saya menganalisi, jadi semuanya akan lihat dari kacamata logika. Lagipula, jangan memaksa diri untuk selalu berpikiran positif.

(baca juga Kadang Pesimis Pada Kehidupan Itu Perlu)

Saya kadang merasa melihat orang yang terlalu menuangkan perasaan ke media sosial sebagai attention seeker, tapi setelah dipikirkan kembali ya mungkin itu caranya menenangkan diri. Kalau saya menenangkan diri dengan menganalisi semuanya dan menarik kesimpulannya. Kalau orang lain, yang penting perasaanya sudah didengarkan oleh orang-orang dan dibantu menyelesaikannya.

Menjadi orang yang mengutamakan logika itu seru, karena jadi tahu banyak hal. Bisa mencoba menempatkan diri dari berbagai sudut pandang dan paling terpenting, tidak baperan kalau dikritik.

Meski kayaknya ada yang kesal saya disindir kok tidak marah.

Bukan berarti yang mengutamakan perasaan jauh lebih rendah dari yang mengutamakan logika, tidak seperti itu. Bagi saya, yang terpenting bagaimana individu itu sendiri menyikapi saat berhadapan dengan suatu masalah.

Memilih menggunakan logika atau perasaan?

Karena Saya Lebih Mengutamakan Logika daripada Perasaan

Minggu, 04 Maret 2018

Sepertinya kebiasaan lama saya yang suka menulis judul panjang kembali lagi.


Karena iseng ikut test MBTI di www.16personalities.com dan hasilnya tetap sama seperti tahun 2015, INTJ. Lalu berniat membuat analisisnya dan sudahlah, anggap saja saya ingin melatih diri untuk konsisten menulis.

Hanya saja, MBTI itu apa sih? Terus kenapa saya sampai tahu kalau kepribadian saja INTJ?
Myers-Birggs Type Indicator (MBTI) adalah psikotes yang dirancang untuk mengukur prefensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. MBTI dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers sejak tahun 1940. Psikotes ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan tipe kepribadian seseorang
(sumber wikipedia)
Saya tahu INTJ karena saya ikut tes di www.16personalities.com dan seperti nama webstienya, ada 16 kepribadian di dunia ini. 16 kepribadian ini dibagi menjadi 4 kelompok besar yang bisa dilihat di bawah ini ya.

Hasil tes ini tidak bisa dibilang benar-benar akurat sih, tapi kalau untuk tahu garis besar kepribadian kita ya cukup benar. Serta alasan saya menjelaskan semua ini, karena jujur kadang capek karena hal tidak berguna dianalisis benar oleh saya.

Terutama, soal perasaan. Saya meski suka menulis cerita cinta, saya sendiri tidak merasakan urgensi harus jatuh cinta. Apalagi cowok yang saya temui selama ini tidak ada yang bisa mengimbangi pola pikir saya. Kebanyakan terlihat bodoh saat saya mengajak mengobrol dan sudahlah, diajak mengobrol saya saja tidak bisa menjawab, apalagi nanti jika dibawa ke jenjang serius bukan?

Jujur saya introvert. Benar-benar orang yang tidak bisa betah dikeramaian. Saya benar-benar lelah kalau keluar rumah, padahal hanya pergi ke sekitar rumah. Bisa dibayangkan kalau saya bertemu banyak orang asing? Saya langsung terkapar di rumah.
People with the INTJ personality type are imaginative yet decisive, ambitious yet private, amazingly curious, but they do not squander their energy.
Meski saya pengguna logika, sebenarnya imajinasi saya pun masih jalan. Cuma ya itu, imajinasi saya tidak sampai level halu. Karena bagaimana ya, membayangkan sesuatu saja, sama saya harus dibuat semirip realitas.

Makanya saya penentang paling depan pada fangirl yang menganggap oppa is mine. Tidak realistis di akalnya saya.

(baca juga Idola Bukan Milik Fans)

Saya juga sadar kalau diri ini tipe ambisius. Semua harus sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan dan kalau gagal, setidaknya ada cara lain yang sudah dipersiapkan untuk mencapai tujuan. Meski begitu, saya juga agak tertutup.

Kalau dibilang tertutup banget sih, tidak. Buktinya masih menulis di sini, tapi memang jarang banget cerita masalah ke media sosial. Palingan cerita dengan 1 teman, lalu ditanya kesimpulannya apa? Makanya saya lebih betah cerita dengannya, karena apa yang saya misuh-misuhin akan mendapatkan konklusinya.

Kalau penasaran, saya rasa semua orang pasti tipe penasaran. Hanya saja, saya penasarannya cenderung ke arah yang dirasa penting saja. Bukan penasaran ke gosip murah, karena ya menurut saya dari kejadian itu dapat hikmah positif apa?

Saya mau penasaran pada sesuatu bukan hanya karena memuaskan rasa penasaran, tetapi juga ada nilai yang bisa dijadikan pembelajaran. Iya, ribet banget saya hidup. Padahal harusnya ya enjoy ajalah dengan segala kerecehan yang ada.
While they will never be comfortable with a truly public display of emotions, INTJ can learn to use them, to channel them alongside their logic to help them achieve their goals.
Meski pun seringnya saya dibilang tidak punya perasaan dan tidak punya hati oleh teman-teman kampus, kenyataanya saya mudah iri. Iri yang seiri-irinya, tapi setelah itu dianalisi. Setelah itu, energi ini akan saya gunakan untuk memacu diri mencapai target.

Memang terdengar aneh, rasa iri, dengki dan teman-temannya itu bisa diubah menjadi cara untuk memacu diri. Hanya saja kan dasarnya saya menganalisi, jadi semuanya akan lihat dari kacamata logika. Lagipula, jangan memaksa diri untuk selalu berpikiran positif.

(baca juga Kadang Pesimis Pada Kehidupan Itu Perlu)

Saya kadang merasa melihat orang yang terlalu menuangkan perasaan ke media sosial sebagai attention seeker, tapi setelah dipikirkan kembali ya mungkin itu caranya menenangkan diri. Kalau saya menenangkan diri dengan menganalisi semuanya dan menarik kesimpulannya. Kalau orang lain, yang penting perasaanya sudah didengarkan oleh orang-orang dan dibantu menyelesaikannya.

Menjadi orang yang mengutamakan logika itu seru, karena jadi tahu banyak hal. Bisa mencoba menempatkan diri dari berbagai sudut pandang dan paling terpenting, tidak baperan kalau dikritik.

Meski kayaknya ada yang kesal saya disindir kok tidak marah.

Bukan berarti yang mengutamakan perasaan jauh lebih rendah dari yang mengutamakan logika, tidak seperti itu. Bagi saya, yang terpenting bagaimana individu itu sendiri menyikapi saat berhadapan dengan suatu masalah.

Memilih menggunakan logika atau perasaan?